Kata besar sering diterjemahkan rayek dalam bahasa Aceh. Versi terjemahan lainnya adalah rayeuk. Maka, dua versi terjemahan itu sering ditemukan dalam tulis menulis.
Seperti ketika Aceh Besar diterjemahkan, penulisannya ada dua versi, yaitu rayek dan rayeuk. Kuantitas pemakaiannya, rayeuk lebih banyak dipakai daripada rayek.
Meski ada dua model penulisan, yang pasti hanya ada satu saja yang benar. Secara keilmuan, khususnya fonetik (ilmu yang mengkaji tentang bunyi bahasa), penulisan yang benar adalah rayek, bukan rayeuk.
Bunyi /e/ pada kata rayek dibaca dengan menurunkan lidah serendah mungkin. Berbeda dengan /eu/ yang dibaca dengan menaikkan tengah lidah dan hampir menyentuh langit-langit keras.
Untuk memastikan kebenaran ini, coba baca kata deuh (terlihat). Setelah itu, pada kata rayeuk tempatkan cara membaca eu seperti pada kata deuh itu. Sesuaikah cara membacanya? Hasilnya, jika Anda melakukan dengan benar, tentu saja tidak.
Jika cara membaca eu seperti pada kata deuh diterapkan pada rayeuk, terbentuklah kata yang tidak ada dalam bahasa Aceh, baik dari segi bacaan maupun artinya. Maka, yang benar penulisannya mestilah rayek sebab bunyi /e/ pada kata tersebut dibaca seperti bunyi /e/ pada kata hei (memanggil) atau kera dalam bahasa Indonesia.
Maka, tulislah rayek, bukan rayeuk.