TERKINI
GAYA

Aceh dan Mantra (Bagian II)

Rapalan neurajah kadang-kadang diucapkan/dibaca pada benda tertentu seperti batu yang agak unik, lalu dibungkus dan diletakkan, disimpan di tempat-tempat yang dibutuhkan sebagai penolak bala atau jampi.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 3.9K×

Neurajah adalah serangkaian kata yang diucapkan dengan syarat tertentu dan dapat menimbulkan kekuatan gaib. Neurajah, yang dalam bahasa Indonesia disebut mantra, merupakan bagian dari puisi lama yang paling tua usianya dan disampaikan secara turun-temurun dalam bentuk lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Neurajah diyakini merupakan unsur penting dalam ilmu gaib (magis). Hal ini dinyatakan oleh Koenjtaraningrat dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Rapalan kata-kata dan suara dianggap memiliki kesaktian dan kekuatan gaib. Neurajah hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu seperti pawang/dukun. Tidak setiap orang boleh mengucapkan karena kesalahan dalam menggunakannya, menurut kepercayaan, dapat mendatangkan bahaya (Yusuf, dkk. dalam buku Struktur dan Fungsi Mantra dalam Bahasa Aceh).

Uraian di atas mengantarkan kita pada satu simpulan bahwa neurajah adalah hasil kesusastraan lisan yang isinya terutama tentang jampi untuk memberikan kesaktian pada air, pada binatang, mengobati orang sakit, sihir, dan doa-doa yang disesuaikan dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat pengguna/pembaca neurajah. Neurajah menggunakan kata dan bunyi tertentu. Kata dan bunyi tersebut dapat menimbulkan kekuatan yang luar biasa bila diucapkan oleh pawang/dukun. Hal ini biasa dipakai untuk jampi-jampi dan guna-guna.

Menurut Yusuf, dalam kegiatan jampi-jampi digunakan kata-kata yang dapat diucapkan dan dinyanyikan menurut irama tertentu sebagai bagian dari kegiatan upacara magis. Kata-kata tersebut ditulis oleh si pelaku jampi (pembaca atau pelaku neurajah) di atas kertas, kain, dan benda lain. Akan tetapi, neurajah harus diucapkan atau dilisankan agar kegiatan itu mendapat efek yang dikehendaki.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa ketika membaca neurajah, si pembaca harus menurut aturan tertentu, seperti mencermati kata yang harus dibaca nyaring, lembut, dan ada pula kata yang harus dibaca ketika sedang menarik nafas.

Rapalan neurajah kadang-kadang diucapkan/dibaca pada benda tertentu seperti batu yang agak unik, lalu dibungkus dan diletakkan, disimpan di tempat-tempat yang dibutuhkan sebagai penolak bala atau jampi. Ada pula yang langsung dibacakan di sudut rumah untuk menolak bencana.

Neurajah terikat oleh bentuk dan susunan mutlak yang tidak boleh diubah sebagai warisan dari ahli gaib dari sejak zaman dulu. Dalam neurajah ada kiasan simbol-simbol, kata konkret sebagai unsur kepercayaan yang dianggap berisi tenaga magis, kepercayaan kepada kekuatan animisme dan dinamisme. Dalam kondisi itu, neurajah menggunakan kata-kata pujaan kepada makhluk halus, Ketika masyarakat telah dipengaruhi oleh ajaran Islam, pujaan beralih kepada Allah serta sanjungan kepada rasul. Bersambung…[]

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar