Selain unsur batin, neurajah juga terbentuk dari unsur fisik. Unsur atau struktur fisik neurajah merupakan satu kesatuan yang utuh dan dapat ditelaah satu per satu. Unsur fisik neurajah meliputi diksi, kata konkret, bahasa figuratif, pengimajian, dan tipografi.
Diksi atau pilihan kata dalam neurajah dipakai untuk memanggil yang gaib, untuk berdoa, dan segala macam aspek kehidupan. Kata yang dipilih dalam neurajah harus mengemban arti tertentu meskipun kata tersebut dipermainkan susunannya sehingga menimbulkan arti yang berbeda dari bahasa konvensional.
Meski susunan kata dalam neurajah menyimpang dari bahasa konvensional, penempatan dan penggunaan kata-katanya dilakukan secara berhati-hati, teliti, dan mempunyai kekuatan atau daya magis. Kata-kata dalam neurajah juga sering tidak denotatif, tetapi konotatif.
Kata dengan makna konotatif memberi efek yang lebih kuat kepada pembaca. Tujuannya tentu saja agar neurajah itu lebih manjur alias menghasilkan efek bagi pihak yang menjadi sasaran neurajah. Setiap kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan neurajah. Oleh karena itu, di samping memilih kata yang tepat, pencipta neurajah juga mempertimbangkan kekuatan atau daya magis kata-kata tersebut.
Dari latar belakang ideologi atau agama, perbedaan dalam memilih perbendaharaan kata bagi pencipta neurajah bisa saja muncul. Pencipta neurajah yang beragama Islam, banyak memiliki kata yang berasal dari bahasa Arab, seperti ucapan bismillah, astaghfirullah, lailahaillallah. Lihat neurajah ini!
wa thalak lahu
wa thalak lahu
wa thalak lareh bil lari
wajjah wakaramullah