TERKINI
GAYA

Rapa-i Saman

Pergelaran rapa-i saman sering dilakukan pada malam hari dan biasanya hingga menjelang subuh.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

Di Aceh Barat dan Nagan Raya ada kesenian tradisional yang dikenal dengan rapa-i saman. Di daerah yang termasuk wilayah barat itu, kesenian ini cukup menonjol dan dikenal oleh masyarakat luas.

Asal-usul rapa-i ini searah masanya dengan perkembangan agama Islam. Saman juga digunakan agar masyarakat mendengar dan mengetahui adanya keramaian di suatu tempat.

Saman awalnya berfungsi sebagai sarana penyampaian ajaran Islam atau dapat dikatakan juga berfungsi edukatif. Namun, karena metode dan tekniknya tergolong unik dan menarik, kegunaannya berubah menjadi tontonan, sekaligus hiburan ketika pelaksanaan upacara-upacara adat, sunat Rasul, maulid Nabi saw., upacara-upacara kebesaran lainnya.

Pergelaran rapa-i saman sering dilakukan pada malam hari dan biasanya hingga menjelang subuh.

Rapa-i saman terdiri dari seorang syeikh, vokal/penyanyi yang merangkap sebagai penabuh rapa-i sebanyak 8 s.d. 12 orang lengkap dengan rapa-i.

Cara penyajiannya adalah penari atau penabuh rapa-i duduk berbanjar sebanyak 8-12 sambil memegang rapa-i masing-masing dan dipimpin oleh seorang syeikh.

Berkaitan dengan busana, para peserta rapa-i saman menggunakan baju dan celana yang dibuat seragam serta berwarna kontras. Pada bahu pemain dilekatkan semacam rumbai seperti pemain drum band sehingga ketika mereka menabuh rapa-i bahunya akan bergoyang dan semakin didramatisasikan oleh goyangan rumbai-rumbai tersebut.

Dalam rapa-i saman, sebagaimana rapa-i lain, juga digunakan syair-syair dan dilantunkan oleh peserta yang juga penabuh rapa-i. Syair-syair yang dilantunkan kadang-kadang berisi asal-asul rapa-i sama, seperti (1) di langèt manyang bintang meublé-blé, (2) cahaya ban kandé leumah u bumoe, (3) Asai rapa-i bak Syeikh Abdullah Kandé, (4) nas nyan Lay peutr?n u bumoe.

Selain itu, ada juga syair-syair umum yang mengisahkan kehidupan manusia meliputi budaya, sosial, agama, sopan-santun, dan teknologi, seperti berikut:

Nyoe jinoe jameun canggéh

Uroe jéh keunoe galon na

Jameun tiphi ka itam putéh

Jinoe meucéh ngeun wareuna (2x)

Terkadang pula digunakan syair yang bunyinya seperti bahasa India. Berikut contohnya.

Joni Joni Joni paradum pam pam pam pam (2x)

Merha bangkir lomi, Joni hé ekséfa

Tésédé remi, remi hé ékséfa

Joni Joni Joni paradum pam pam pam pam (2x)[]

 

Sumber: Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar