RAPBA 2016 hingga kini belum jelas nasibnya. Eksekutif dan legislatif Aceh bahkan terkesan saling menyalahkan. Mungkin hanya di Aceh kejadian begini. Apalagi Gubernur dan Wakil Gubernur serta mayoritas anggota DPR Aceh berasal dari partai yang sama. Mereka seharusnya saling mendukung bukan malah gontok-gontokan.
Kubu legislatif Aceh kalah telak di pengesahan APBA 2015. Kini ada kemungkinan hal yang sama akan terjadi. Eksekutif, dalam hal ini Gubernur, mat alee puntong sehingga rencana Pergub APBA amat mengemuka.
Sejak anggaran Aceh melimpah di 2008 lalu, maka pertentangan dua lembaga ini selalu menggelora. Buahnya APBA selalu terlambat. Bilapun cepat seperti 2014, itupun sebenarnya APBA pura-pura. Sebab dokumen pelaksanaan anggaran baru siap bulan Juni. Ini belum lagi berbicara ada para pihak yang berleha-leha ke luar negeri disaat jadwal pembahasan APBA dilakukan.
Pertentangan soal anggaran antara eksekutif dan legislatif kian melebar di tahun ini. Gubernur dan Tim Anggaran Pemerintah Aceh merasa paling berhak menentukan plot anggaran. Walaupun selama ini anggaran kita setiap tahun tulak tong tinggai tem. Artinya uang habis tak menghasilkan kebaikan bagi Aceh.