TOKE mengeluarkan es balok dari gudang kecil di kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Satu demi satu es balok diletakkan di atas papan sepanjang tiga meter yang menghubungkan mulut gudang dengan kapal nelayan. Dua anak buah Toke lantas memotong es batu itu, lalu diangkat ke kapal, dan dimasukkan dalam kotak fiber.
Sudah berapa batang (es), Toke, seorang pekerja bertanya dalam bahasa Aceh kepada pria yang dipanggil Toke. Baru 13, ujar Toke dengan suara lebih kepada dirinya sendiri.
Toke mengambil es batu atau es balok itu dari pabrik es di Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Ia kemudian menjual es balok itu kepada nelayan di PPI Pusong. Ada juga yang kita pesan dari Sigli, kata Toke sambil terus mengeluarkan es balok dari gudang berdinding kayu dan beratap seng itu.
Ada dua gudang kecil tempat penyimpanan es balok di kawasan PPI Pusong. Salah satunya milik Toke itu. Kebutuhan es setiap hari di lokasi ini saja rata-rata di atas 150 batang. Tergantung hasil tangkapan ikan, kadang kala sampai 200 batang lebih, ujar Toke, ditemui portalsatu.com, belum lama ini.
Kurang 100 meter dari gudang es balok milik Toke itu, ada bangunan besar yang disebut pabrik es dan gudang penyimpanan ikan. Menurut sejumlah sumber, bangunan tersebut dibangun sejak tahun 2009 dan selesai 2011 menggunakan dana Otsus dan DAK Rp2 miliar lebih. Pemko Lhokseumawe kemudian memakai dana APBK 2011 Rp500 juta untuk pengadaan instalasi listrik pabrik es PPI Pusong itu.
Sempat difungsikan sebentar untuk pabrik es tahun 2012, setelah itu terlantar sampai sekarang. Menurut info, pengelola tidak sanggup membayar tunggakan rekening listrik puluhan juta, ujar seorang pemuda yang rumahnya dekat pabrik es itu.
Pemuda tersebut telah membangun kandang dan memelihara ayam di sudut kanan halaman depan dalam kompleks pabrik es itu. Sisi kanan pabrik es tersebut ada pula kandang ayam milik warga lainnya. Sebagian besar halaman kompleks pabrik es itu tertutup tumbuhan liar.
Kabarnya, berbagai peralatan pabrik es tersebut telah dijarah setelah bertahun-tahun terlantar. Daun pintu, jendela, termasuk material di langit-langit bangunan itu ikut dicuri. Kini tinggal bangunan kosong.
Memang sangat kita sayangkan, pabris es yang sudah dibangun dengan dana cukup besar itu terlantar. Kalau difungsikan tentu kami tidak perlu beli es di Punteuet atau dari Sigli. Selain itu bisa menampung tenaga kerja untuk produksi es, kata Toke tadi.