LHOKSUKON Sejumlah nelayan di Kabupaten Aceh Utara mengeluhkan kurangnya es batangan untuk mendinginkan hasil tangkapannya di laut. Dampaknya, nelayan terpaksa harus membeli es batu…
LHOKSUKON Sejumlah nelayan di Kabupaten Aceh Utara mengeluhkan kurangnya es batangan untuk mendinginkan hasil tangkapannya di laut. Dampaknya, nelayan terpaksa harus membeli es batu eceran produksi rumah tangga.
Nelayan sekarang banyak menggunakan es batu dibungkus dalam plastik ukuran satu kilogram yang dibeli dari masyarakat sekitar, kata Panglima Laot Kabupaten Aceh Utara, Ismail Insya, kepada Portalsatu.com, Kamis, 31 Maret 2016.
Ismail mengatakan selama ini dirinya dan sejumlah nelayan mengambil es batangan dari pabrik yang ada di kawasan Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Namun pabrik tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan nelayan Aceh Utara ditambah Kota Lhokseumawe.
Awai ta cok es batang nyan di Peunteut, tapi lawet nyo hana tat le sebab keu nelayan di Kota Lhokseumawe manteng hansep, kiban lom keu Aceh Utara yang nelayan jih rame, kata Ismail.
Ismail mengatakan beban operasional nelayan selama ini terus meningkat. Biasanya satu batang es tersebut mampu mendinginkan sekitar 200 kilo gram ikan hasil tangkapan dengan harga terjangkau. Namun sekarang jika dengan es batu dibuat dari plastik dengan harga satunya seribu rupiah pastinya butuh ratusan es yang harus dibeli untuk mendinginkan 200 kilo gram ikan dalam satu fiber, kata Ismail.
Menurut Ismail, pihaknya telah berupaya mencari solusi kepada pemerintah untuk mencari solusi agar tingkat pengeluaran nelayan dalam sekali melaut bisa ditekan lebih kecil lagi pengeluarannya.[](bna)