Sejalan dengan kebiasaan yang telah ditentukan, di dalam menyerap unsur bahasa asing, bahasa Indonesia berusaha menyesuaikan ejaannya sedekat mungkin dengan ejaan bahasa asalnya. Akan tetapi,…
Sejalan dengan kebiasaan yang telah ditentukan, di dalam menyerap unsur bahasa asing, bahasa Indonesia berusaha menyesuaikan ejaannya sedekat mungkin dengan ejaan bahasa asalnya.
Akan tetapi, jika unsur asing itu sudah lama menjadi warga bahasa Indonesia (sebelum Ejaan yang Disempurnakan Disusun), lazimnya ejaan ataupun lafalnya tidak terlalu terikat dengan ketentuan tersebut. Kata kabar, misalnya, juga kata-kata yang lain seperti kalbu, khaimah, hairan, fadluli, fardlu, taubat, nimah, sholat, dizikir, hadits, idzin, Thohir, dlolim, dan lafads, yang berasal dari bahasa Arab sudah lama diserap menjadi kabar, kalbu, kemah, heran, peduli, nikmat, salat, zikir, hadis, izin, lahir, lalim, lafal.
Perhatikan bahwa ejaan kata-kata tersebut sudah cukup jauh dari ejaan bahasa asalnya. Bahkan, di antaranya ada pula yang telah mengalami perubahan makna. Misalnya, kata kalbu dalam bahasa kita berarti hati, tetapi dalam bahasa asalnya berarti anjing. Makna hati dalam bahasa asalnya dinyatakan dengan kata qalbu (dengan q), bukan kalbu (dengan k). Sungguhpun demikian, pemakaian kata kalbu sebagai sinonim kata hati dalam bahasa kita tidak terlalu dipermasalahkan. Masalah itu baru akan timbul jika kita berbahasa Arab.
Dalam hubungan itu perlu dikemukakan bahwa unsur bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Arab yang digunakan dalam hal keagamaan. Oleh sebab itu, penggunaan bahasa Arab dalam hal-hal keagamaan ejaannya disesuaikan dengan kaidah transkripsi dan transliterasi, yang dalam hal ini kaidah itu ditetapkan oleh Departemen Agama bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Beberapa huruf yang berasal dari bahasa asing, setelah ejaan bahasa Indonesia diresmikan, banyak yang diterima menjadi abjad bahasa Indonesia. Di antaranya adalah konsonan z dan gabungan konsonan kh. Oleh karena itu, konsonan z dan gabungan konsonan kh yang berasal dari bahasa Arab tetap menjadi z dan kh dalam bahasa Indonesia. Sejalan dengan itu, kusus, kasanah, ahir, dan ahlak yang benar ditulis dengan khusus, khazanah, akhir, dan akhlak.
Sejalan dengan penjelasan di atas, berikut ini adalah sejumlah kata baku dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab: kabar, kalbu, kemah, heran, peduli, perlu, tobat, nikmat, salat, zikir, hadis, izin, lahir, lalim, lafal, khusus, khazanah, akhlak, akhir, zaman. Segala bentuk penulisan selain seperti yang telah dituliskan adalah bentuk yang salah.[]