Lain lagi dengan bahasa Inggris. Bahasa nomor satu di dunia ini hanya menggunakan lima warna untuk pelangi, yaitu purple (ungu), blue (biru), green (hijau), yellow (kuning), orange (oranye), dan red…
Pelangi salah satu keajaiban di dunia ini. Gejala alam yang juga dikenal dengan bianglala itu terjadi apabila cahaya matahari mengalami pembiasan ketika terkena air hujan. Pelangi hanya dapat dilihat pada saat hujan dan disertai cahaya matahari, bahkan posisi pengamat juga menentukan, yaitu di antara hujan dan sinar matahari, lalu sinar matahari ada di belakang pengamat sehingga akan terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi dan terbentuklah pelangi dari hasil proses pembiasan tadi.
Ada beberapa warna yang dihasilkan oleh pelangi. Tidak semua bahasa menggunakan kata yang sama untuk menyebutkan warna-warni pelangi itu, begitu juga dari segi jumlah warnanya.
Bahasa Indonesia, misalnya, menyebutkan ada tujuh warna pelangi, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu dan sering disebut mejikuhibiniu.
Lain lagi dengan bahasa Inggris. Bahasa nomor satu di dunia ini hanya menggunakan lima warna untuk pelangi, yaitu purple (ungu), blue (biru), green (hijau), yellow (kuning), orange (oranye), dan red (merah). Namun, penutur bahasa Shona (Sebuah bahasa yang dipakai di Rhodesia) membagi spektrum warna pelangi menjadi tiga warna utama, yaitu cipswuka, citema, cicena, dan cipswuka. Cipswuka terjadi dua kali, tetapi hanya warna merah dan ungu yang terakhir dikategorikan sebagai warna yang sama. Yang cukup menarik adalah citema yang juga mengandung hitam, dan cicena yang juga mengandung putih.
Di samping ketiga istilah itu, tentu saja terdapat istilah-istilah untuk mengacu ke warna-warna yang lebih khusus. Kesepakatan untuk membagi spektrum warna pelangi menjadi tiga bagian bukan berarti menunjukkan adanya perbedaan dalam kemampuan penglihatan warna, tetapi hanya merupakan perbedaan dalam cara warna itu digolong-golongkan atau disusun oleh bahasa.
Para penutur bahasa Bassa (bahasa yang dipakai di Liberia) lebih umum lagi membagi warna pelangi. Mereka membaginya hanya dalam dua warna. Dalam bahasa ini juga terdapat istilah-istilah untuk mengacu ke warna-warna yang lebih khusus, tetapi secara umum warna pelangi hanya dikategorikan dalam dua warna, yaitu hui dan zïza.
Barangkali penutur bahasa Indonesia akan menganggap bahwa pembagian warna pelangi menjadi tujuh warna merupakan pembagian yang paling canggih. Bagian sebagian orang mungkin iya, tetapi tidak bagi sebagian orang yang lain.
Dengan penggolongan yang lebih umum itu, warna kuning, oranye, dan ragam warna merah dapat dinyatakan dalam satu rangkaian warna , sedangkan warna biru, ungu, dan nila, dapat dinyatakan dalam rangkaian warna yang lain. Bagi ahli botani yang berbahasa Bassa, penggolongan warna bunga menjadi dua warna saja tidak menjadi masalah karena mereka memiliki istilah yang sesuai untuk keperluan itu, yaitu hui dan zïza.[]