LHOKSEUMAWE – Peneliti Gender dari FISIP Universitas Malikussaleh, Cut Sukmawati menilai saat ini partai politik (parpol) hanya mengikutsertakan perempuan dalam pesta demokrasi secara dadakan. Akademisi ini menyayangkan kondisi tersebut terjadi di Aceh.
Jangan sewaktu menjelang masuk pesta demokrasi, baru setiap parpol mencari perempuan untuk mengisi 30 persen kuota kursi (caleg) bagi perempuan, kata Cut Sukmawati dalam diskusi bertemakan Pilkada Aceh 2017 dalam Perspektif Gender, diselenggarakan LPPM Unimal, di Lhokseumawe, Sabtu, 10 September 2016.
(Baca juga: Sosiolog: Aceh Dulu Tak Pernah Persoalkan Gender)
Cut Sukmawati menyebutkan, parpol juga tidak menjemput bola terhadap peran perempuan dalam demokrasi. Ini suatu penyakit demokrasi yang terjadi kepada perempuan. Padahal, ini bukan persaingan antara laki-laki dengan perempuan, melainkan sebagai mitra, ujarnya.
Harusnya parpol mengajak para perempuan untuk bergabung jauh-jauh hari, berikan pelatihan dan juga pengkaderan. Jangan sebaliknya, saat perlu baru mencari,” kata Cut Sukmawati.
Cut Sukmawati juga menyampaikan pandangan soal minimnya perempuan yang tampil dalam pesta demokrasi 2017 di Aceh. Saat ini di Aceh hanya dua perempuan akan maju dalam pilkada mendatang, itupun di Banda Aceh. Salah satunya merupakan petahana atau Wali Kota Banda Aceh saat ini. Sedangkan di kabupaten/kota lainnya di Aceh belum muncul perempuan yang maju sebagai kandidat kepala/wakil kepala daerah.
(Lihat pula: Ini Alasan Perempuan Aceh Enggan Maju di Pilkada)
Menurut Cut Sukmawati, kondisi tersebut lantaran berkembangnya budaya politik yang menilai laki-laki dianggap layak untuk dikedepankan, atau bisa dikatakan saat ini masih didominasi kaum pria.[]