Pekan ini media begitu getol menyorot proyek pengadaan videotron di Dinas Pendidikan Aceh. Dengan anggaran Rp 8,5 miliar proyek tersebut dinilai hanya menghambur-hamburkan uang di tengah merosotnya mutu pendidikan di Aceh.
Ini seakan menegaskan mentalitas pejabat kita yang lebih doyan pada proyek fisik ketimbang peningkatan mutu. Patut diduga, dengan perangai seperti itu, para pejabat terkait akan dengan mudah menguasai aliran dana proyek melalui penerimaan sejumlah fee dari rekanan. Sudah menjadi rahasia umum, fee proyek kerap mengalir ke kantong pejabat terkait. Ibarat kata “ada udang di balik bakwan”.
Bagi Darjo, kasus videotron bukanlah kali pertama ini saja. Diawal 2015 media ini juga menulis tentang videotron milik Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan. Pengadaan videotron masa itu di beberapa titik lokasi. Seperti Simpang PKA samping Masjid Oman. Pasar Lambaro, Sare, Aceh Besar, dan Beureunuen, Pidie. Semua media iklan elektronik itu dibangun semasa Hasanuddin Darjo mengepalai BKPLuh Aceh. Kini proyek yang sama muncul di Dinas Pendidikan. Orang Aceh bilang ini tak ubahnya “kareng tho bileh leubet, peunyaket shet meuriwang teuma”.
Kondisi mutu pendidikan Aceh yang rendah tidak mungkin ditingkatkan dengan videotron. Anggaran mubazir di dinas gemuk ini bukan hanya videotron. Pasti banyak lagi. Gaya hidup Darjo yang flamboyan. Konon lagi menjelang pilkada. Dia pasti butuh dana besar untuk terus dipercaya. Maka jangan heran banyak proyek tak bermanfaat di sana.
Kabar berhembus dari dalam ada banyak lagi proyek model videotron. Seperti pengadan buku revolusi mental. Pengadaan buku PAUD. Pengadaan kedua buku itu tidak mengikuti meknisme buku pendidikan. Karena semua buku yang digunakan di sekolah wajib lulus verifikasi Pusat Perbukuan Kemendikbud. Lucunya ada buku untuk PAUD. Padahal pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dibutuhkan adalah APE ( alat permainan edukatif). Proyek model begini diduga bertujuan untuk mengejar rente.