oleh Syukran Jazila,S.H.I. ***

“Turki” Negara yang Memiliki prestasi Kemanusiaan dan Menghargai HAM Sedunia Sekaligus Respek terhadap Masalah Dunia (Demikian Judul Aslinya).

Mengapa saya berani beri judul opini demikian, karena dengan mata saya sendiri walaupun saya tidak bisa menjangkau ke luar negeri untuk melihat negara sang penakluk Konstantinopel itu, banyak bukti sejarah dan berita yang  telah saya baca dalam pemberitaan media tentang apresiasi terhadap Perdana Menteri Erdogan oleh dunia terkait konflik-konflik di dunia (global conflic).

Berbagai tanggap aksi yang dilakukan oleh negara ini sangat cepat dilakukan saat negara lain acuh tak acuh, ragu-ragu, bahkan ada yang diam, menutup mata terhadap peperangan yang terjadi di berbagai dunia, khususnya dunia timur. Kita melihat bahwa Turki setanggap bencana apa pun yang dirasakan masyarakat dunia memberikan bantuannya ke negara-negara yang dilanda konflik, Palestina-Gaza, Rohingya, dan masih teringat Aleppo di Syria, bahkan muslim yang tertindas lain yang Turki rangkul untuk dibantunya, adakah apresiasi HAM yang dilakukan oleh negara lain dibandingkan dengan aksi yang dilakukan oleh negara Turki, bahkan negara lain hanya bisa mengucapkan belasungkawa atau hanya melihat berita melalui televisi atau media lainnya, bahkan pihak musuh atau segelintir negara yang berwajah jahat yang menyebabkan konflik perang di berbagai negara timur ikut membantu negara-negara apatis itu menutup mata mereka untuk mengaburkan opini-opini publik tentang perang yang mereka mainkan.

Belajar dari Mavi Marmara

Saat itu Palestina, tepatnya di Gaza, sebuah kapal bantuan kemanusiaan dari Turk,i yaitu mavi marmara membawa bantuan medis, makanan dan minuman, dan bahan-bahan bangunan lainnya. Di tengah pelayaran ke Gaza, pasukan Israel dengan helikopter mengepung kapal tersebut. Aksi tembak-menembak antara tentara Israel dan relawan pun terjadi. Israel berdalih kapal tersebut membawa alat-alat perang seperti senjata dan tentara Israel juga berdalih mereka menembak relawan tersebut sebagai aksi bela diri perlawanan karena pihak relawan yang menyerang tentara Israel saat menyidak ke kabin kapal.

Netanhayu Benjamin yang mengetahui kejadian tersebut dengan gampang dengkul kepalanya meminta maaf kepada Turki dan menggantikan kerugian-kerugian yang dilakukan oleh pasukan tentaranya. Namun, Turki tidak tinggal diam. Turki bereaksi keras atas kegaduhan yang dilakukan oleh tentara Israel ini kepada armada kapal yang membawa bantuan tersebut.

Tindakan yang dilakukan oleh zionis Israel ini memicu konflik kegaduhan dunia. Beberapa pengadilan di Eropa, seperti Spanyol dan Afrika Selatan berasumsi PM Israel itu harus bertanggung jawab sepenuhnya  atas tuntutan kejahatan terhadap aksi kemanusiaan ini.

Turki yang menghargai nyawa umat manusia ini pun dihadang dan ditantang oleh musuhnya. Bahkan beberapa kecaman terhadap kejadian ini menjadi sorotan di seluruh penjuru dunia. Nah, di saat Turki melakukan hal demikian, masih saja ada anggapan masyarakat dunia bahwa Turki tidak menghargai HAM. Betapa tidak, reaksi dari penghembusan opini buruk kepada Turki dilakukan oleh musuh Turki dan sekutunya. Fakta malah sebaliknya yang dilakukan Turki. Negara ini terus mengulurkan tangannya kepada umat manusia yang dilanda konflik. Negara yang pernah menggemilangkan kejayaan Islam di Eropa ini berkecimpung dalam keutuhan Dinul Islam. Sejengkal umat Islam di dunia dimusuhi oleh musuhnya. Turki tak pernah lelah melobi ke negara Islam lainnya, pejabat negara untuk membantu negara  yang berkecamuk perang, Erdogan sendiri tetap bersikukuh dalam membela negara Islam dari ancaman musuh Islam.

Sampai saat ini musuh-musuh Turki masih bercokol, mengolah kemana pun, dan bagaimanapun kepada Turki untuk mengacau balaukan negara yang menghargai HAM umat manusia ini.

Sekarang dan baru-baru ini penutupan Dubes Belanda di Ankara semakin memanas di sana. Tak cukup dari itu, saat Pemilu Turki tahun yang lalu di mana Erdogan memenangkan suara terbanyak saat itu, agenda pemecahan dua kubu kelompok pun terjadi. Mereka orang yang melihat Turki gembira saat pesta demokrasi malah menjerumuskan masyarakat Turki ke dalam kubu yang berbeda.

Adalah Fethullah Gulen yang pernah menjadi partner Erdogan digembos dan diadu dalam penyebab  aksi kudeta  oleh pihak lawan yang kalah dalam pesta rakyat Turki tersebut.

Tragedi Aleppo yang belum hilang dari kita membuat adrenalin umat Islam ini bergejolak. Betapa tidak, negara-negara yang seharusnya menjadi tameng kemanusiaan terhadap tugas yang diberikan oleh PBB dalam hal perdamaian harusnya melihat, mendengar, dan membantu, bukan malah berkontribusi dalam perasaan sedih atau belasungkawa yang diungkapkan melalui sosial media dan berita lainnya.

Jauh dari tindakan Turki, Turki malah membuka perbatasan dan menerima pengungsi Aleppo untuk masuk ke negaranya. Ini dilakukan Turki setelah bersepakat dengan Rusia. Turki membuka pintu rumahnya untuk warga muslim yang tertindas, masya Allah, persis yang dilakukan oleh Rasulullah antara kamu Muhajirin dan Anshar, Pahit , Letih, Sedih, Gembira , Turki mempersaudarakannya.

Masyarakat dan Negara yang Peduli

Menjadi negara yang peduli terhadap kemanusiaan harus dimulai dari pribadi sendiri, keluarga, kemudian tetangga hingga naik derajat amanah kepada pemimpin bagi kaum negarawan. Kita harus belajar dari Turki. Negara ini telah banyak memberikan cerminan kepada dunia. Berbagai tantangan dari musuh dan sekutunya bagi Turki itulah pahala kemanusiaan dan amalan terbaik di sisi Allah azza wa jalla.

Menutup tulisan saya ini, teringat satu kata yang keluar dari mulut Erdogan dan membuat saya bergetar saat membacanya. Kata-kata itu adalah “ Di mana Azan Berkumandang, di situlah Tanah Airku”. (Recep Tayyip Erdogan). Cuma beliau yang berani mengucapkan kata-kata demikian sampai saat ini. Akhirull hazal qalam , assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

***Syukran Jazila,S.H.I. adalah alumnus UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Fakultas Syariah dan Hukum.