BANDA ACEH - Jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA) bersama pengurus Partai Aceh berdoa bersama di pusara mendiang Wali Nanggroe Teungku Chik Di Tiro Hasan Bin…
BANDA ACEH – Jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA) bersama pengurus Partai Aceh berdoa bersama di pusara mendiang Wali Nanggroe Teungku Chik Di Tiro Hasan Bin Muhammad, di kompleks Makam Nasional Teungku Syekh Muhammad Saman, Gampong Meurue Indrapuri, Aceh Besar, Rabu, 25 Mei 2016 pagi. Ikut serta dalam doa bersama ini pengurus Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA), sejumlah ulama dan warga Aceh.
Doa bersama ini dilakukan sekaligus untuk menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H.
“Kita tumbuh dan muncul dari semangat perjuangan yang tidak bisa kita lupakan sepanjang masa, karena kita semua telah menerima ilmu dan amanah dari almarhum Tgk. Hasan Di Tiro dan almarhum merupakan gure rayek bansa Atjeh (guru besar bagi bangsa Aceh),” ujar Tuha Peut PA Malik Mahmud.
Menurutnya Tgk. Hasan Di Tiro merupakan sosok revolusioner yang selalu mengajarkan anak didiknya tentang bagaimana sepatutnya hidup dan bersikap, termasuk kapan harus berperang dan berdamai. Sehingga, kata dia, nilai-nilai dan pesan perdamaian yang almarhum tekankan menjadi amanah bagi generasi penerus dalam membangun Aceh ke arah yang lebih baik.
“Wali juga yang mengajarkan kita tentang sejarah, identitas dan kepentingan Aceh sebagai bangsa besar dan terhormat serta berwibawa dalam pandangan masyarakat dunia. Dan almarhum tidak pernah mementingkan kepentingan pribadinya dan golongan, melainkan selalu Wali pikirkan tentang Aceh yang berdaulat, bermartabat, sejahtera dan menjalankan semua perintah Allah SWT,” kata Malik.
Ketua Tuha Peut PA ini mengatakan, perjuangan ini adalah lanjutan dari perjuangan para pendahulu semuanya. Pahlawan dan ulama Aceh menurutnya sudah banyak berkorban untuk Aceh dalam mempertahankan marwah dan wibawa yang telah dijajah.
“Satu hal yang perlu kita tegaskan sebagaimana almarhum Wali amanahkan, alim ulama merupakan benteng dalam menjaga marwah Aceh, yang terinklusi dalam tujuan dari pendidikan Aceh untuk melahirkan kader dan generasi yang bermakna, yang bertaqwa kepada Allah SWT. Apalagi hidup kita orang Aceh berada dalam landasan iman dan Islam. Dengan demikian, kepentingan Aceh tidak boleh terpisahkan dengan kepentingan agama Islam,” ujarnya.
Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar juga mengingatkan agar perdamaian yang sudah terbangun ini menjadi pijakan untuk membentuk karakteristik rakyat Aceh, apalagi menjelang bulan suci Ramadhan 1437 H. Dia juga memohon maaf lahir dan bathin serta mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa.
Hadir dalam acara “saweue kubu Wali” Ketua KPA/PA Pusat H Muzakir Manaf, Wakil Ketua KPA/PA Kamaruddin Abubakar, Juru Bicara DPA-PA Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, Ketua DPW-PA Aceh Besar Saifuddin Yahya alias Pak cek yang juga sebagai calon Bupati Aceh Besar periode 2017-2022, Ketua KPA/DPW-PA Banda Aceh Mukhlis Abee yang juga Juru Bicara KPA Pusat, Ketua KPA/DPW Bireun Darwis Djeunieb, dan Ketua KPA Pidie Tgk. Muhammad.
Hadir juga dalam kegiatan itu Tgk. Hasanuddin Bin Sabon selaku Bendahara DPA-PA, Teuku Raja Muliya selaku Ketua DPW-PA Nagan Raya, Ketua DPW-PA Pidie H. Sarjani Abdullah yang juga Bupati Pidie, Ketua DPW-PA Nagan Raya Teuku Raja Muliya, sejumlah anggota DPRA, DPRK Aceh Besar dan Pidie, jajaran MUNA dan seluruh jajaran KPA/PA Aceh Besar serta sejumlah ulama Aceh.[](bna)