LHOKSEUMAWE Masyarakat kawasan pusat kota Lhokseumawe sempat dihebohkan dengan temuan benda diduga bom (teror bom) di depan Vihara Buddha Tirta, di Pusong Lama, Lhokseumawe,…
LHOKSEUMAWE Masyarakat kawasan pusat kota Lhokseumawe sempat dihebohkan dengan temuan benda diduga bom (teror bom) di depan Vihara Buddha Tirta, di Pusong Lama, Lhokseumawe, 6 November 2016. (Baca: Heboh, Ada Benda Diduga Bom di Vihara Budha Tirta Lhokseumawe)
Lantas, apa komentar masyarakat di sekitar lokasi itu?
Kami terkejut dengan teror bom, karena selama ini tidak ada kejadian apapun di rumah ibadah masyarakat Tionghoa tersebut. Kami rukun-rukun saja, tidak pernah mempersoalkan dengan ibadah mereka, ujar Tgk. Said Bikri, pengelola Balai Pengajian Nurul Hayah, Pusong Lama kepada portalsatu, Rabu, 9 November 2016.
(Baca juga: Polisi Periksa Tiga Saksi Teror Bom di Vihara Lhokseumawe)
Tgk. Said mengaku tidak tahu persis masalah teror bom 6 November itu, walau lokasi balai pengajiannya hanya berjarak 200 meter dari Vihara Buddha Tirta dan beberapa gereja di Pusong Lama. Saat temuan benda diduga bom yang ternyata berupa batu bata itu, ia sedang tidak berada di kampungnya.
Setahu saya Vihara sudah ada tahun 60-an, selama itu pula saya tidak melihat ada perselisihan dengan mereka (Tionghoa), apalagi sampai ada teror-teror bom segala. Pelakunya pasti orang luar yang ingin merusak kerukunan beragama di sini, tambah tokoh gampong tersebut.
Hal senada diungkap Nur, seorang ibu rumah tangga yang tinggal berhadapan dengan rumah ibadah itu. Sudah 10 tahun lebih Nur dan keluarganya tinggal di sana, selama itu pula tidak pernah ada persoalan.
Mereka semua orang baik, kita juga baik. Mereka tidak pernah mengganggu, kita juga sama. Makanya aneh kalau sampai ada orang neror bom, kata Nur.
Ibu tiga anak itu mengaku selama ini jemaat di Vihara maupun gereja-gereja di sekitarnya kerap membantu masyarakat setempat, terutama bagi mereka yang sangat membutuhkan bantuan.[]
Laporan Sirajul Munir