JAKARTA – Pernahkah Anda memecahkan sandi? Ternyata banyak teknik memecahkan sandi berasal dari Peradaban Muslim. Di Peradaban Muslim abad ke-9, surat dikirim dengan merpati, benar-benar “pos udara”.

Karena surat-menyurat di dunia Muslim menggunakan burung sebagai pengirim, pesan rahasia harus dijaga agar tak terbongkar, maka digunakan enkripsi atau sandi.

Benteng kota Kairo, Mesir, pusat komunikasi kala itu, memiliki 1.900 merpati pembawa pesan. Dengan mempelajari teks Arab, Al-Kindi, ilmuwan Baghdad abad ke-9, menyadari bahwa beberapa huruf lebih sering digunakan ketimbang yang lain.

Al-Kindi menggunakan hasil pengamatannya untuk membuat metode pemecahan sandi berdasarkan apa yang dia sebut “analisis frekuensi”, sebagaimana dirangkum dari “1001 Penemuan dan Fakta Mempesona Peradaban Muslim,” Rabu (16/11/2016).

Dalam jenis sandi itu, huruf-huruf diganti lambang atau huruf yang berbeda. Pemecah sandi bisa mencari tahu apa arti tiap huruf atau lambang, lalu mengubahnya menjadi huruf-huruf yang dimaksud, dan membaca pesannya.

Jika suatu pesan berbahasa Indonesia disandi dengan metode itu, maka lambang yang paling banyak dipakai bakal mewakili huruf A adalah yang paling sering muncul dalam tulisan berbahasa Indonesia.

Buku Al-Kindi, Risalah fi Istikhraj al-Mu'amma (Risalah Pemecahan Sandi), meletakkan dasar ilmu kriptologi modern dengan cara mendorong masyarakat dari kebudayaan lain untuk mencari cara baru untuk menyandi pesan.

Analisis frekuensi lambang/huruf pengganti menjadi alat utama dalam memecahkan sandi yang dituliskan dengan abjad. Sebelum tulisan Al-Kindi, banyak yang menganggap sandi dengan penggantian huruf tak dapat terpecahkan.

Kriptanalisis adalah kata abad ke-20 untuk ilmu sandi yang dipelopori oleh Al-Kindi. Dengan menggunakan kriptanalisis, sekutu dalam Perang Dunia II bisa memecahkan sandi militer Jerman yang dibuat alat mirip mesin ketik yang disebut Enigma.

Pesan-pesan rahasia Jerman yang dikirim oleh Enigma dapat dibaca oleh pemecah sandi dari Polandia dan Inggris. Sementara jurnalis Simon Singh menyebut Al-Kindi sebagai pembuat metode memecahkan sandi pertama di bukunya The Code Book, terbit pada 1999.[] okezone.com