Seperti daerah-daerah lain, salah satu khazanah budaya Aceh adalah tarian. Tulo-tulo, misalnya. Tarian ini asalnya dari Kota Sabang dan dikenal sejak 1920.

Pada masa itu banyak orang dari Pulau Nias bermukim di Sabang. Ada yang tinggal di sana karena berstatus pegawai Belanda, ada juga sebagai pedagang dan nelayan. Para perantau Nias ini hidupnya berkelompok yang diberi nama Tangsi Nias. Hingga kini kelompok ini masih dikenal dengan nama Tulo-Tulo. Ketika pecah Perang Dunia kedua, kelompok Tangsi Nias pindah ke Paya Senara dan tetap mengembangkan tarian Tulo-Tulo.

Tarian ini diciptakan oleh penduduk Nias ketika itu karena kerinduan pada tanah kelahiran mereka di Gunung Sitoli, Kepulauan Nias. Ini berarti lahirnya Tulo-Tulo semata-mata bertujuan untuk menghibur.

Tulo-Tulo ditarikan oleh kaum pria, baik yang masih muda maupun tua. Jumlahnya 8, 12, hingga 18 orang, beserta seorang penyanyi yang memimpin nyanyian para penari. Penyajian melambangkan keadaan raja-raja di Nias.

Makna pola dan gerak serta nyanyian tarian Tulo-Tulo dilambangkan dengan persiapan seorang raja dalam menghadapi peperangan, raja mengadakan pesta-pesta, raja memerintahkan rakyat untuk bekerja dan mempersiapkan peperangan sekaligus juga ikut serta berperang.

Tarian Tulo-Tulo, yang telah ada sejak Belanda menguasai negeri ini, mengekspresikan maksud tertentu yang dilambangkan dalam gerakan seperti gerak bergelombang dalam bentuk lingkaran dan gerak ular-ularan dalam bentuk memanjang. Selain itu, ada juga gerak merebut istana kerajaan, bertempur dalam peperangan, dan gerakan silat.

Gerak tarian Tulo-Tulo banyak ragamnya: talifuseu, haru menabaluse, faliga baluse, sara bamaina, simate mila menemali,belatu terlak.

Talifuseu merupakan gerak berbentuk lingkaran. Pemainnya berpegang satu sama lain dengan gerak langkah yang perlahan-lahan diikuti dengan yang mengungkapkan persaudaraan persatuan.

Haru menabaluse, barang dengan senjata pedang dengan baluse (perisai). Gerakan penari sangat gesit dan lincah yang berbentuk memanjang dua baris, dengan lagu dan syair yang menimbulkan semangat perjuangan yang mencerminkan satu barisan dengan lawannya. Masing-masing mempertahankan daerah (kerajaannya).

Gerakan lain adalah faliga baluse (melenggang dengan perisai/pedang). Gerakan ini melambangkan kegembiraan dalam istana kerajaan saat raja berpesta pora mengadakan upacara.

Sara bamaina atau main gembira adalah gerakan berbentuk bintang secara kembang kuncup-kuncup akibat gerakan keluar dan ke dalam dengan berputar melingkar, dengan gerak kaki dan tangan sambil membawa pedang yang diayun-ayunkan dan menantang dalam keadaan gembira.

Lain halnya dengan simate mila menemali. Gerakan, yang dalam bahasa Indonesia disebut maju pantang mundur walau mati menanti, ini dilakukan menyerupai ular naga kelaparan untuk menyerang/mencari mangsanya. Panglima pembawa jalan yang paling depan membawa tombak, dan pengikutnya membawa peralatan seperti pedang dan belati perisai.

Yang terakhir adalah gerakan belatu, terlak atau belatu, pisau. Tarian persilatan ini bisa satu lawan dua dan dapat juga bergelombang menggunakan alat pisau dan lain-lain.[]

Sumber: Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009