DALAM melahirkan sebuah kekuatan dan energi, peran dari sebuah rabitah sangat besar. Salah satu kekuatan yang selalu hadir dan mengawasi kita adalah bagian dari prosesi rabitah. Lihatlah dalam lintasan sejarah apa yang terjadi pada nabi Yusuf As. Saat beliau nyaris terjerumus dalam perbuatan yang terlarang dan ini merupakan salah satu indikasi atas kenyataan tersebut.
Telah disebutkan dalam surat Yusuf ayat 24 yang berbunyi, Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 24) .
Para ulama tafsir berpendapat bahwa burhan (tanda) pada ayat di atas yang dilihat oleh Nabi Yusuf As sebagaimana yang diungkapkan Syekh Ibnu Kasir dalam tafsirannnya ada beberapa argumen. Pertama, riwayat dari pada Ibn 'Abbas, Sa'id, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Muhammad bin Sirin, al-Hasan, Qatadah, Abi Salih, al-Dahak, Muhammad bin Ishaq dan lain-lainnya menyebutkan bahwa Nabi Yusuf As itu telah melihat rupa ayahandanya, Nabi Ya'qub sedang menggigit jari-jari tangannya dan disebutkan pula dalam satu riwayat lainnya dari Ibn 'Abas (juga) bahwa Nabi Ya'qub telah memukul dada Nabi Yusuf.
Kedua, Al-'Awfi berkata (berdasarkan riwayat) dari Ibn 'Ab bas bahwa Nabi Yusuf telah nampak dalam pandangannya rupa raja yang menjadi tuannya itu (menurut pendapat ulama beliau bernama Qithfir).
Berdasarkan ayat di atas bahwa Nabi Yusuf telah melihat ayahnya Yacob dan ini diperkuat juga argumen yang dikutip oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya, Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa ungkapan andai kata Yusuf tidak melihat bukti tuhannya dalam surah Yusuf di atas tersebut adalah, andai kata beliau tidak melihat bayangan bentuk wajah ayahnya [Tafsir al-Thabari,XII: 186].