DALAM perspektif tarikat, rabitah menghubungkan rohaniah murid dengan rohaniah guru, guna mendapatkan wasilah yang ada pada rohaniah Syekh Mursyid, di mana rohaniah Syekh Mursyid telah berhubungan, berhampiran dengan rohaniah syekh-syekh Mursyid sebelumnya, sampai dengan rohaniah Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW.
Dalam hal ini para ulama tasawuf dalam membahas rabitah tidak juga membawakan dalil sebagai pegangannya. Salah satunya sebagaimana firman Allah SWT, : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kamu kepada Allah SWT, supaya kamu beruntung (sukses) (Q.S. Ali Imran 3 : 200).
Para ulama tafsir dalam menafsirkan kata “warabithu dalam ayat di atas dengan mengambil arti hakikinya, itulah yang menjadi dasar rabitah oleh para pakar tasawuf tarikat seperti tersebut di atas. Syekh Amin Al Kurdi menjadikan rabitah kubur sebagai kaifiat kedelapan dan rabitah mursyid sebagai kaifiat kesembilan dalam berzikir (Amin Al Kurdi 1994 : 443 444).
Dalam firman yang lain juga disebutkan :Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (Q.S. At Taubah 9 : 119). Dalam pandangan Syekh Ubaidullah Ahrar menafsirkan kebersamaan dengan orang-orang yang benar, yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam ayat itu terbagi dua :
Pertama, bersama-sama jasmaniah, yaitu semajelis, sehingga kita mendapatkan keberuntungan dari orang- orang yang shidiqin itu. Kedua, Bersama-sama maknawiah, yaitu bersama-sama rohaniah yang diartikan dengan rabitah.
Sementara itu dalam pandangan Syekh Muhammmad Amin Al Kurdi menyatakan wajiblah seorang murid terus menerus merabitahkan rohaniahnya kepada rohaniah Syekh gurunya yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah SWT.
Karunia yang didapati itu bukanlah karunia dari mursyid, sebab mursyid tidak memberi bekas, yang memberi bekas yang hakiki, yang memberi bekas sesungguhnya hanya Allah SWT. Yang memberi kurnia dan memberi nikmat hanya Allah SWT, sebab di tangan Allah SWT sajalah seluruh perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi, dan tidak ada yang dapat berbuat untuk mentasarufkannya kecuali Allah SWT. Hanya saja Allah SWT mentasarufkannya itu, melalui pintu- pintu atau corong-corong yang telah ditetapkan-Nya atau menjadi Sunnah-Nya, antara lain melalui para kekasih-Nya, para wali-wali Allah SWT yang memberikan syafaat dengan izin-Nya (Amin Al Kurdi,1994 : .448).[]