Selama Ramadan, kata ini cukup populer digunakan, baik secara lisan maupun tulisan. Itu artinya kita sudah sangat akrab dengan kata ini dan tentunya barangkali sudah tahu betul maknanya. Banyak tulisan telah membahas tentang takjil, tetapi tetap saja masih ada rasa penasaran untuk membuka berbagai referensi untuk mendapatkan klarifikasi yang lebih lengkap, seperti yang diulas oleh Ahmad Sadariskar, Pemerhati Bahasa berikut ini.
Huruf /k/ pada kata takjil sebenarnya pengganti huruf ain pada tulisan aslinya sehingga huruf /k/ dibaca tak terdengar seperti huruf k pada kata takdir. Huruf /k/ tersebut dibaca sebagai huruf ain yang berbaris sukun (baris mati). Dulu, masih dimungkinkan menulisnya dengan tanda koma menjadi tajil, tetapi kini berdasarkan aturan bahasa Indonesia yang baru ditulis dengan huruf /k/. Kata takjil umumnya dipahami kebanyakan orang sama dengan makanan ringan (biasanya kurma) atau makanan kecil lain yang manis untuk berbuka puasa.
Dalam kaidah tata bahasa Arab (Alquran), bentuk kata takjil adalah isim masdar. Isim masdar dalam bahasa Indonesia adalah kata dasar. Jika sebuah isim masdar dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia, selain menggunakan menurut arti kata dasarnya, dapat juga diberikan awalan pe- dan akhiran -an pada kata dasar tersebut. Sebagai contoh isim masdar adalah kata taklim yang merupakan isim masdar dari allama yuallimu berarti pengajaran, pendidikan (Kamus Al-Munawwir, hal. 967).
Kata takjil, jika ditelusuri bentuk kata kerja telah (fiil madhi) dan kata kerja sedangnya (fiil mudhari) adalah ajjala yuajjilu. Adapun arti fiil madhi-nya jika diambil dari makna kata ajila yajalu salah satunya adalah asraa yang maknanya bersegera (Kamus Al-Munawwir hal. 900). Maka, jika hendak diartikan, arti takjil dalam bahasa Indonesia adalah penyegeraan.