Oleh Zul Afrizal (Joel Pase)
Pilu mendalam sekaligus laksana petir dan hujan lebat di tengah panasnya siang saat mendengar berita kepergian sang guru dan motivator bagi saya dan segenap pelaku seni di Aceh, Syeh Min dengan membawa nama besar Cakra Donya yang disematkan kepadanya meninggalkan kita beberapa hari yang lalu.
Terasa sesuai sekali dengan laqabnya cakra donya sebuah lonceng hadiah kerajaan Cina sebagai bukti sejarah adanya hubungan diplomasi yang baik antara Aceh (Samudra Pasai). Negeri tersebut sangat memberi warna pada seorang penyair Aceh ini. Syeh Min telah siap mengabdikan dirinya di dunia seni tutur dan syahi seudati. Tidak sedikit karya yang beliau berikan buat generasi Aceh ini meski sering dilihat sebelah mata.
Sebagai salah seorang yang mencintai seni budaya Negeri Tanoh Rincong, Syeh Min kerap tampil di hadapan masyarakat baik dalam beberapa event di tingkat kabupaten/kota, daerah, dan nasional. Kiprahnya memberikan energy positif pada generasi, bersama rekan sejawatnya seperti ayah Medya Hus, Syeh Yan, dan Teungku Ali Muntasar, dengan ciri khas konsep seueng samlako, telah mampu memberikan aura unik dan positif buat kita semua.
Bagi pribadi saya, salah seorang dari sekian ramai generasi yang sedang belajar meniti ilmu kesenian dan budaya Aceh, rasa terimakasih yang amat mendalam terukir rapi kepada sang Almarhum. Awal pertama sekali berjumpa saya terkagum dengan suara serak bermelodi tradisi Aceh itu, beliau hadir sebagai pelatih vocal syahi seudati saat saya sedang menimba ilmu di sanggar Seni Seulaweuet IAIN Ar-Raniry. Beliau datang memanggil saya lalu mengajarkan beberapa lirik syair yang kerap dilantunkan beliau dalam berseudati.