TERKINI
TAK BERKATEGORI

Suara Rakyat Kecil: Gop yang Meupoliték, Tanyoe yang Maté

IDI RAYEK - Suhu politik menjelang pemilihan kepala daerah di Aceh Timur terkesan kian panas. Hal ini ditandai dengan terdengarnya dua kejadian letusan senjata api…

IRMANSYAH D GUCI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 3.4K×

IDI RAYEK – Suhu politik menjelang pemilihan kepala daerah di Aceh Timur terkesan kian panas. Hal ini ditandai dengan terdengarnya dua kejadian letusan senjata api dalam sepekan terakhir.

Salak senjata api pertama kali terdengar pada Minggu, 21 Agustus 2016 sekitar pukul 23.30 WIB. Saat itu, Nawan, warga Teupin Nyareng, Kecamatan Idi Rayek mengaku menjadi sasaran penembakan oleh OTK usai beranjak dari Posko Partai Aceh. Nawan yang tercatat sebagai anggota KPA selamat dari insiden tersebut.

Belum usai penyelidikan penembakan terhadap Nawan, kembali posko pemenangan Nek Tu-Polem yang berada di Jalan Banda Aceh-Medan, disasar timah panas. Tiga peluru menembus bangunan posko milik mantan kombatan GAM yang melaju dari jalur independen tersebut.

Itu sebabnya, suasana Aceh Timur kembali mencekam. Hal ini membuat warga menjadi takut beraktivitas normal, seperti dirasakan Luqman, 32 tahun. Pria yang berprofesi sebagai pedagang di seputaran Aceh Timur itu mengaku sangat takut setelah mendengar kabar penembakan di kawasan tersebut. Selaku masyarakat kecil, dia meminta kepada siapa pun pelaku agar segera menghentikan aksinya dan menyimpan senjatanya.

Mungken tatupue di Aceh jai budé mantong, tapi geutanyoe selaku rakyat tameulakée bék na yang teumimbak. Meunyoe na budé jikubah mantong bèk itimbak yang kon-kon,” ujar Luqman saat diwawancarai portalsatu.com, Rabu, 24 Agustus 2016.

Namun, Luqman tidak mau berspekulasi soal siapa pelaku teror bersenjata ini. Apalagi para penegak hukum telah melaksanakan tugasnya untuk mengamankan situasi dan kondisi daerah. Namun dia menilai, penembakan itu terjadi karena belum adanya kesadaran pihak tertentu.

Masalah yang teumimbak nyan hana payah tapeugah so yang salah, baik nyan para elit politik atau ureng laén. Peu lom tugas polisi kana yang jaga, cuma nyoe mungkin kesadaran ureng golom na,” kata Luqman.

Disinggung mengenai dampak dari penembakan di Aceh Timur, pria yang memiliki dua anak ini mengaku sangat berpengaruh terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat setempat. Apalagi, kata dia, jika sampai jatuh korban.

Meunyoe lagèe nyoe ka mulai jiteumimbak, nyan mempengaruhi that di Aceh Timur. Nyoe yoeteuh, gop meu politék, tanyoe rakyat yang maté,” ujar Luqman.[](bna/*sar)

IRMANSYAH D GUCI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar