Kependekan kata atau lebih lazim disebut singkatan pernah membuat gundah sekelompok pemerhati bahasa Indonesia karena pemakaiannya, terutama di media cetak dan media sosial, dianggap sudah sangat keterlaluan sampai-sampai mengancam bakal merusak bahasa Indonesia. Bagaimana bisa bahasa Indonesiarumah bersama segenap penduduk Indonesiamenjadi rusak oleh pemakaian singkatan? Namun, apakah yang mendorong orang memendekkan kata?
Bagi sebagian orang, ketika pikiran berjalan lebih cepat dari perbuatan menulis, atau bicara seorang narasumber lebih laju dari pencatatan oleh penanya, dorongan menyingkat kata sukar dihindari. Maka meluncurlah bentuk-bentuk singkat yg (yang), th (tahun), sbg (sebagai), sdg (sedang), dst (dan seterusnya). Namun, singkatan mungkin juga hadir karena ada keperluan menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan, atau unsur kimia. Sudah lama kita mengenal lambang huruf, seperti gr (gram), l (liter),m (meter), kg (kilogram), atau Fe (ferum). Singkatan dapat pula terbentuk karena ada keperluan menyimbolkan sesuatu, memadatkan nama diri. Misalnya, akronim ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia), dan FISIP (fakultas ilmu sosial dan ilmu politik).
Di negeri yang kebanyakan kalangan melek hurufnya lebih menghargai singkat dalam pengertian segera, jalan pintas daripada hemat, padu, praktis ini, kita melihat produksi singkatan kian bertumbuh pesat. Sampai sekitar sepuluh tahun lalu sajatercatat dalam sebuah kamus yang mengambil data dari sumber-sumber tercetak (Agata Parsidi, Kamus Akronim, Inisialisme, dan Singkatan, edisi kedua dengan suplemen. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994)kependekan kata dalam bahasa Indonesia sudah mencapai jumlah lebih dari 33.000 (belum termasuk dari ragam bahasa slang yang berbau porno dan kurang sopan). Saya mendapat kabar baru-baru ini, pada 2009 jumlah itu sudah membiak jadi 57.000!
Malah judul Akronim, Inisialisme, dan Singkatan tadi dapat menjelma akronim Aids. Akronim judul itu seperti hendak menegaskan bahwa singkatan dapat dipadankan dengan sejenis virus maut.
Saya pikir ada benarnya bahwa kegemaran menciptakan akronim dan singkatan kini sudah terlampau berlebihan, malah kadang mencerminkan kemalasan tanpa nalar.
Singkatan dan akronim mudah sekali kita temukan berserak di media massa dan media sosial. Pemakaiannya, apalagi sampai merajalela, di media massa tak pelak punya dampak hebat menularkan dengan cepat kegandrungan menyingkat-nyingkat kepada khalayak luas. Namun, media sosial punya dampak lebih hebat lagi. Fakta bahwa lewat media sosial seseorang dapat menyampaikan isi kepala dan isi hatinya serentak kepada banyak orang lain dengan seketika jelas menyediakan jalan lebar bebas hambatan buat singkatan menyebar sampai sejauh-jauhnya. Belum lagi bila kita perhitungkan efek gema, bagaimana satu bentuk yang diterima seseorang diteruskan olehnya kepada sekian banyak orang lain, dan begitulah seterusnya proses penyebaran berlangsung dalam efek ganda.