Singkatan dan akronim asing pelafalannya diperlakukan agak berbeda dengan singkatan dan akronim bahasa Indonesia. Sebagai singkatan, huruf dari bahasa mana pun dilafalkan menurut namanya dalam abjad bahasa Indonesia.
Sejalan dengan hal itu, singkatan FAO, IGGI, DO, BBC, AC, WC, TV, TVRI haruslah dilafalkan [ef-a-o], [i-ge-ge-i], [de-o], [be-be-ce], [a-ce], [we-ce], [te-ve], [te-ve-er-i], bukanlah [ef-ey-ow], [ai-ji-ji-ay], [di-ow], [bi-bi-si atau be-be-se-], [ey-si atau a-se], [dablyu-si atau we-se], [ti-vi], [ti-vi-er-i].
Ketika bahasa Indonesia masih menggunakan ejaan lama, pelafalan [be-be-se], [a-se], dan [we-se] untuk singkatan BBC, AC, WC dapat d benarkan sebab pelafalan itu sesuai dengan nama huruf c dalam ejaan lama, yaitu se.
Namun, sejak EyD Diresmikan dan nama huruf c mengalami perubahan dalam abjad Indonesia, pelafalan BBC, AC, WC pun berubah sesuai dengan nama huruf yang berlaku sekarang. Dengan demikian, pelafalan BBC, AC, WC adalah [be-be-ce], [a-ce], [we-ce] karena disesuaikan dengan huruf c, yaitu ce.
Dalam hubungan itu, singkatan asing tidak dilafalkan sesuai dengan lafal asingnya karena dapat menyulitkan para pemakai bahasa Indonesia. Jika singkatan dari bahasa asing harus dilafalkan menurut nama huruf dalam bahasa Inggris, misalnya, bagaimana ketika kita dihadapkan pada singkatan dari bahasa asing lainnya, seperti Prancis, Rusia, Jerman, dan Jepang? Berapa banyak masyarakat kita yang mengenal huruf di dalam bahasa-bahasa itu? Bagaimana pula melafalkan huruf dalam bahasa-bahasa itu, tentu tidak banyak yang tahu.