Beberapa hari lalu, kita dikejutkan dengan berita tentang perzinahan anak di bawah umur. Dalam sebulan ini kita disuguhkan berita mengerikan. Sejumlah anak menjadi korban perkosaan. Baik oleh orang dekatnya maupun pedofili kambuhan.
Patut diduga kasus yang muncul di media hanya puncak gunung es. Banyak yang tidak terendus publik. Kasus Matangkuli, Aceh Utara, amatlah lengkap. Ternyata pelakunya pemakai narkoba. Kita tidak cukup prihatin saja. Aceh adalah negeri syariat Islam. Kasus ini mencoreng wajah kita.
Oleh karena itu, dibutuhkan upaya masif dan terukur menyelesaikan kasus ini. Pemerintah harus jeli melihat persoalan ini. Misalnya dengan menertibkan warnet. Memberi pelajaran ini kepada kelompok rentan. Mengidentifikasi korban. Dan menyembuhkan para korban.
Banyak sekali hal saat ini abai oleh pemerintah, sehingga kasus ini makin menggila. Lihat saja bagaimana menjamurnya warnet. Tidak ada pengawasan batasan jam beroperasi. Tidak ada batasan umur dan waktu memakai warnet.
Begitu juga dengan pelajaran tentang pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual. Pemerintah terkesan tidak sungguh-sungguh mengurusi hal ini. Hanya insidentil saja. Ketika kasus muncul ke publik, pemerintah hanya membuat pernyataan untuk cari muka. Setelah itu tidak ada kerja konkrit.
Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Aceh terkesan abai. Para petinggi badan ini lebih sibuk melayani “permaisuri Meuligoe Aceh” dibanding kerja konkret. Sejumlah anak korban perkosaan ternyata tidak terlayani dengan baik untuk sembuh dari trauma. Seharusnya pemerintah melakukan evaluasi terhadap lengbaga ini. Pimpinannya agar lebih bekerja sesuai tupoksi daripada urusan “menjilat”.
Kita patut kecewa terhadap lembaga ini. Kita tidak tahu apa yang mereka kerjakan. Pasalnya sejumlah korban kekerasan dan pelecehan seksual tidak ditangani dengan benar oleh lembaga ini. Jangan sampai lahirnya lembaga dengan nama amat mulia ini hanya untuk menggarong anggaran. Kita sedang dalam bahaya.
Anak-anak kita dalam target pelaku. Disamping pemerintah ada juga tugas masyarakat dan keluarga untuk menghentikan hal ini. Budaya permisif keluarga dan masyarakat menyebabkan para pelaku makin punya kesempatan. Ketidakpedulian masyarakat terhadap hal-hal mencurigakan.