TANGERANG – Desa (gampong) Jagabita terletak jauh di pelosok Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Denyut kehidupan kampung itu mengandalkan sang tetangga, Desa Bojong Bitung, Legok, Tangerang. Kedua desa ini terpisah oleh sungai.
Untuk bisa sampai ke Bojong Bitung, warga memanfaatkan jembatan Cimanceuri yang usia diperkirakan sudah 100 tahun. Kontruksinya bukan beton, melainkan bambu yang dibangun secara mandiri dengan uang hasil patungan warga.
Sementara, untuk perawatan rutin, warga rela menyisihkan sebagian uang demi baiknya kondisi jembatan yang hanya bisa dilewati dengan jalan kaki atau sepeda motor. Tidak ada sedikitpun dana bantuan dari pemerintah.
” Biasanya setahun sekali dibenerin jembatannya. Karena bambu kena air pada rusak dan keropos,” ujar Ketua RT 03 Desa Jagabita, Yadi Setiadi.

Saat musim hujan tiba, masalah muncul. Jembatan itu menjadi sulit dilewati lantaran licin. Akibatnya, akses pendidikan, ekonomi, dan aktivitas warga seolah lumpuh.
” Jembatan enggak bisa dilewati mobil, harus muter sekitar 4 kilometer. Makan waktu banyak, karena kalau enggak muter cuma 1 kilometer. Jadi di sini kalau mau ke mana-mana jauh. Anak sekolah harus diantar. Apalagi pas hujan, kalau enggak terpaksa banget kami enggak akan keluar kampung,” kata Yadi kepada tim PPPA Daarul Quran, melalui keterangan tertulis diterima Dream, Kamis 10 Agustus 2017.
Kondisi fisik jembatan yang rapuh tak ayal kerap memakan korban. Hampir setiap tahun, ada saja warga yang jatuh akibat terpeleset.
