BANDA ACEH – Wahana Lingkngan Hidup (Walhi) Aceh mencatat sepanjang 2015, ada 1,4 triliun Rupiah kerugian ekologi yang dialami Aceh.
Hal ini disampaikan Direktur Walhi, M.Nur, saat menjadi pembicara pada diskusi publik yang bertajuk Analisis Kebijakan Pemerintah terhadap Penanggulangan Bencana Banjir Derah, di Kafe 3in1 Banda Aceh, Rabu, 30 Desember 2015.
“Berdasarkan catatan kami (Walhi Aceh) kerugian ekologi yang dialami Aceh mencapai 1,4 triliun Rupiah yang diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti ilegal logging, konflik satwa, kebakaran hutan, dan lainnya,” kata M. Nur.
Ia menilai, pemerintah Aceh tidak serius dalam mengatasi hal ini sehingga permasalahan ini sering muncul.
Kondisi Aceh yang rawan bencana seharusnya membuat pemerintah harus lebih siap baik sebelum bencana, saat bencana maupun pascabencana, katanya.
Khairul Iqbal, salah satu akademisi Unsyiah yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan, di tahun 2008 wilayah Indonesia sering mengalami bencana dan bencana banjir memiliki angkat tertinggi dari bencana lain yang sering terjadi.
“Angka bencana banjir mencapai 34 persen. Di Aceh bencana banjir sering terjadi akibatkan pemeliharaan dan perhatian yang kurang dari pemerintah maupun masyarakat. Jika sungai sudah barmasalah baru ditangani,” katanya.
Khairul menjelaskan, bencana banjir yang sering terjadi di Aceh juga dipengaruhi oleh kodisi geografis. Wilayah Aceh memiliki topografi 0-2 persen datar, 2- 15 landai, dan 15-40 persain curam.
“Ini juga menjadi faktor penyebabnya. Sebagai contoh, ada salah satu tempat (Gampong Peuniti) di Banda Aceh, yang ketinggian tanahnya kalah dengan ketinggian air laut yakni mencapai enam meter,” imbuhnya.[]
Laporan: Murti Ali Lingga