Selama masih ada rakyat, masih ada dangdut! Kredo yang dilontarkan oleh Jaja Mihardja ketika membawakan acara Kuis Dangdut di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada awal dekade 1990-an, kini terbukti adanya. Meski di landa berbagai prahara, misalnya terpinggirkan karena dianggap musik kaum marginal, kampungan, dan terakhir dituding sebagai musik erotis, dangdut ternyata masih dan makin eksis.
Musik dangdut tak bisa mati. Itu musik rakyat, kata pengamat musik senior, Remy Silado, beberapa waktu silam ketika dimintai tanggapan soal keberadaan musik dangdut di pentas musik tanah air.
Ya itulah musik dangdut hari ini. Di penghujung tahun, melalui kontes menyanyi yang ditayangkan di Indosiar, Dakedmy Asia, dangdut secara gamblang menegaskan posisi dirinya kembali. Menyimak apa yang dikatakan perancang mode Ivan Gunawan, bila hari ini banyak perancang mode percaya bahwa dangdut punya nilai jual, mereka pun tak segan membalutkan gaun dan pakaian rancangannya kepada para penyanyinya.
Ada kemajuan besar, bila dulu teman saya enggan mengenakan gaun rancangannya kepada penyanyi dangdut, kini malah mereka begitu antusias memberikan karyanya. Inilah yang luar biasa, kata Ivan Gunawan ketika memberikan komentarnya pada kontes menyanyi 'Dakademy Asia' yang ditayangkan di stasiun televisi Indosiar.