TAPAKTUAN – Para pihak yang tidak tahu permasalahan sebenarnya tentang insiden di Trumon Raya diminta agar tidak mengeluarkan pernyataan yang berpotensi semakin memperkeruh suasana. Hal ini disampaikan Juru Bicara Tim Pemenangan Irwandi YusufNova Iriansyah Kabupaten Aceh Selatan, Samsul Bahri alias Mamak, dalam konfrensi pers di kantor sekretariat bersama pemenangan IrwandiNova, Tapaktuan, Jumat, 13 Januari 2017.
Seperti pernyataan saudara Ketua Partai Koalisi Pendukung dan Pengusung Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf TA Khalid Aceh Selatan, Teuku Heri Suhadi alias Abu Heri Rotterdam. Setahu kami jangankan tahu duduk persoalan, yang bersangkutan juga bukan berasal dari eks kombatan GAM yang pencetus pertama sehingga lahirnya Partai Aceh. Jadi sebagai orang yang numpang lewat di Partai Aceh, seharusnya yang bersangkutan tidak mengeluarkan pernyataan yang berpotensi memperkeruh suasana, kata Samsul Bahri.
Samsul Bahri menyatakan, di saat pihaknya yang merupakan orang tua dalam kelompok GAM Aceh Selatan memutuskan keluar dari Partai Aceh. Hal ini disebabkan karena garis perjuangan yang dijalankan dinilai sudah menyimpang dari cita-cita awal. Sehingga tinggallah rekan-rekan mereka sesama mantan kombatan yang masih muda-muda.
Sebenarnya kami menaruh harapan besar kepada adik-adik kami yang masih muda-muda tersebut. Namun, yang terjadi justru sangat menyedihkan, sebab sikap mereka di lapangan cenderung belum dewasa dalam berpolitik. Karena itu, kami mengimbau kepada para petinggi Partai Aceh yang senior-senior agar membina dan mendidik adik-adik kami tersebut supaya lebih dewasa dalam berpolitik, ujar Samsul Bahri.
Dia menyayangkan sikap para simpatisan dan kader Partai Aceh dan KPA yang selama ini langsung menstigmakan eks kombatan GAM sebagai pengkhianat karena keluar dari Partai Aceh. Menurutnya Partai Aceh tersebut lahir setelah terwujudnya perdamaian di Provinsi Aceh.
Seharusnya masih ada sejarah atau historis kelam di saat kita masih bersama-sama dulu berjuang di hutan belantara. Kenapa di saat kita sedang susah dulu rela hidup bersama dan mati pun juga bersama-sama, kata Samsul Bahri dengan terbata-bata.