TERKINI
OASE

Rima Septiana, Guru Bertugas Membangun Minat Siswa Terhadap Budaya Aceh

LHOKSEUMAWE –  Kepeduliannya terhadap budaya Aceh, mengantarkan Rima Septiana, S.Pd., menjadi guru seni di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lhokseumawe. Berbekal ilmu seni diperolehnya dari Universitas Negeri…

NUSI P SEURUNGKENG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 973×

LHOKSEUMAWE –  Kepeduliannya terhadap budaya Aceh, mengantarkan Rima Septiana, S.Pd., menjadi guru seni di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lhokseumawe. Berbekal ilmu seni diperolehnya dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia mencoba menjadi motivator bagi anak didiknya.

Menurut Rima, generasi muda yang berada di sekolah paling berpotensi dalam hal ekstrakulikuler seni. Khususnya dalam kesenian Aceh yang mulai terlupakan.

Wanita bertubuh mungil kelahiran Lhokseumawe, 24 September 1983 silam itu pun bertekad akan mengenalkan budaya Aceh kepada anak–anak didiknya. Ia menjadi guru seni di SMK Negeri 1 Lhokseumawe sejak tahun 2009 lalu. 

“Budaya adalah identitas dari sebuah daerah, sekecil apapun budaya harus tetap dijaga agar tidak terancam punah. Selama ini jelas terlihat seiring dengan perkembangan zaman, seni tradisional semakin kalah saing,” kata Rima Septiana kepada portalsatu.com, Rabu, 25 November 2015.

Melihat kenyataan itu, sebagai guru eni ia berpendapat, “Generasi muda tidak dapat disalahkan begitu saja. Guru juga merupakan motivator bagi siswa untuk tetap cinta akan budaya dan tradisi kita sendiri. Untuk membangun dan menarik minat generasi muda merupakan tugas para guru di setiap sekolah.”

Selain mendukung sanggar-sanggar umum yang ada di Aceh, Rima berharap pemerintah juga merespon sanggar-sanggar yang ada di sekolah. Baik tinggkat SD, SMP maupun SMA sederajat.

Khusus untuk sanggar yang ada di sekolah, ia berharap pemerintah dapat memberikan pelatihan bagi para guru seni dan siswa yang tergabung dalam sanggar tersebut. Pelatihan itu dapat berupa tarian, music tradisi, kerajinan Aceh atau lainnya. Dengan adanya pelatihan, maka guru dan siswa akan semakin bertambah pengetahuannya tentang budaya Aceh.

“Itu sangat penting bagi generasi penerus bangsa. Jangan sampai anak cucu kita di masa mendatang tidak kenal lagi dengan budaya Aceh. Pemerintah jangan takut mengucurkan dana untuk siswa yang berprestasi, karena seni itu mahal. Di saat mereka menang atau tampil di luar daerah, maka mereka akan mengharumkan nama daerahnya,” ujar ibu dari dua anak ini.

Tak sia –sia, usahanya membuahkan hasil dan prestasi gemilang. Berikut beberapa prestasi yang telah diraih anak didiknya yang bernaung di Sanggar Jeumpa Kuneng:

1.      Mengikuti lomba O2SN banda Aceh mewakili Kota Lhokseumawe  (2012)

2.    Juara II tari Ranub Lampuan se-Kota Lhokseumawe (2011)

3.    Juara II (TENOR) Putra Audisi Paduan Suara GITA BAHANA se-Kota Lhokseumawe (2012)

4.    Juara I Penampilan Terbaik Pementasan pagelaran Seni Budaya di lingkungan SLTA se-kota Lhokseumawe 24 November 2012

5.     Juara I Tari Saman se-Aceh dalam rangka HUT ALMUSLIM (6-7 Februari 2013)

6.    Juara II festival Tari Kreasi Aceh YAMAHA MOTOR SHOW  (10 Maret 2013)

7. Juara I Tari Kreasi HUT Kota Lhokseumawe 2014

8. Juara I Tari Ratoh Jaroe tingkat SMA HUT Kota Lhokseumawe 2014

9. Juara I Music Tradisi tingkat provinsi FL2SN 2014

10. Juara II Nasyid se-Kota Lhokseumawe dalam Pentas PAI 2015.

“Sebenarnya masih banyak prestasi lainnya. Di antaranya, mewakili Aceh dalam FL2SN tingkat Nasional di Semarang pada 2014. Tahun yang sama kembali mewakili Aceh ke Pekan Baru, Riau dalam acara Dance Word Day. Kala itu saya termasuk salah satu penarinya,” tandas Rima.[]

NUSI P SEURUNGKENG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar