BANDA ACEH – Ketua Ketua Rakan Mualem Pusat, Muzakir, bersama rekan-rekannya mengunjungi korban rusuh Aceh Singkil yang sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin dan RSU Meuraxa, Banda Aceh, Sabtu, 17 Oktober 2015. Kunjungan ini sebagai bentuk solidaritas Rakan Mualem terhadap korban kerusuhan yang terjadi di Aceh Singkil.
“Kami merasa prihatin terhadap kerusuhan yang terjadi di Aceh Singkil yang telah memakan korban jiwa dan menyebabkan terjadinya eksodus sementara,” ujar Muzakir kepada portalsatu.com melalui siaran persnya kepada portalsatu.com.
Berdasarkan laporan dari Rakan Mualem Aceh Singkil menyebutkan pemuda muslim telah menunjukkan sikap toleransinya dengan menjaga gereja yang masih berdiri di beberapa desa agar tidak mendapatkan gangguan. Namun mereka juga sangat mengharapkan kejelasan sikap pemerintah Aceh Singkil dalam menjalankan peraturan yang berlaku di Kabupaten Aceh singkil.
“Sebenarnya masyarakat Aceh dikenal dengan masyarakat yang memiliki rasa toleransi sangat tinggi terhadap perbedaan etnis dan agama. Hal ini terlihat dari perjalanan sejarah toleransi masyarakat Aceh, dan bahkan republik ini harus belajar bagaimana masyarakat Aceh menghargai minoritas di Aceh,” kata Muzakir.
Dia turut mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil untuk menertibkan tempat peribadatan yang tidak memiliki izin. Hal ini diperlukan agar toleransi ummat beragama di Aceh Singkil terjaga dengan baik sesuai aturan dan kearifan lokal di Aceh.
Muzakir juga berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas kasus rusuh Aceh Singkil tanpa mendiskriminasikan salah satu pihak yang bertikai. Pasalnya, kata dia, hal itu akan dapat memicu konflik baru.
“Kita juga berharap kasus tersebut kiranya dapat diselesaikan dengan damai dengan menghargai kearifan lokal,” katanya.
Di sisi lain, Muzakir meminta semua pihak tidak berkomentar provokatif terkait kasus Aceh Singkil. “Apalagi menggiring daerah kelahiran Syech Abdurauf As-Singkili ke konflik SARA,” katanya.
“Aceh ini baru saja mengecap damai. Jangan ada pihak yang tidak senang Aceh damai. Biarkan kami membangun Aceh dengan semangat perdamaian,” kata Muzakir.[]