BANDA ACEH – Akademisi UIN Ar-Raniry Prof. Dr. H. A. Hamid Sarong, mengatakan, orang Aceh harus berkeringat membangun negerinya. Jangan saling menyalahkan, tapi doronglah masyarakat untuk paham membangun negeri ini. Mari bersinergi semua institusi dalam membangun negeri.
Hal itu disampaikan Hamid Sarong dalam Focus Group Discussion bertajuk Politik Jangan Usik Kerukunan Umat Beragama yang dilaksanakan Sub Bagian Hukum dan KUB Kanwil Kementerian Agama Aceh, di aula kantornya, Banda Aceh, 30 Desember 2015.
Karna bodoh, karna kemiskinan, jadilah seperti ini keadaan kita. Meski negeri lain juga bodoh, miskin, namun mereka memiliki etika. Sudah rendah tapi tidak mau terlihat rendah. Jelas di belakang kekuasaan itu ada uang, yang oleh orang bodoh hanya mengiyakan orang-orang yang memiliki uang, katanya.
Sementara pemateri lainnya, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ziauddin Ahmad, mengatakan, politikus harus memiliki modal harta, karisma, ilmu, ada nyali, keturunan, popularitas.
Politikus itu tidak hanya cukup dengan menyatakan punya partai, tapi punya modal; menguasai sumber-sumber kekuasaan yaitu wilayah, orang/masyarakat, kemudian sumber ekonomi. Jika itu dikuasai maka ia dapat kekuasaan, katanya.
Menurutnya, apabila politikus tidak memiliki semua modal tersebut, maka ada yang nekat memakai agama untuk tujuan politik. Karena, menurutnya, agama mudah diledakkan. Agama menjadi mesiu untuk diledakkan sewaktu-waktu.
Seperti di Singkil, konflik antarumat agama bisa juga terjadi akibat ulah kepentingan poltik, sepertinya ada faktor x yang dibungkus. Persoalan itu sebenarnya tidak sepenuhnya murni sebab agama, namun ada persoalan lain, katanya.
Ia meminta, politikus tidak berupaya menyeret agama ke ranah politik. Peristiwa Singkil, katanya, terjadi karena alasan politis. Namun saat politik tidak dilibatkan, maka dalam waktu satu hari, konfilk itu selesai. Dapat diselesaikan dengan cepat. Tidak berlama-lama dalam konflik yang terjadi.
Jangan jadikan agama yang ditarik dalam politik tapi politik yang sesuai dengan ajaran agama. Ukhuwah islamiyah, ukhuwah bashariyah yang mesti dijaga. Harus ada dukungan dari semua pihak agar pemilu 2017 dapat terlaksana dengan baik, katanya.
Dalama cara yang dipandu oleh akademisi UIN A-Raniry, Hasan Bari, M. Nur, tersebut menghadirkan narasumber Ziauddin Ahmad, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Aceh, Plh. Kakanwil Kemenag Aceh. H. Abrar Zym, S. Ag., dan Prof. Dr. H. A. Hamid Sarong, Akademisi UIN Ar-Raniry.
Dalam diskusi itu, para hadirin yang ikut memberikan pendapat, di antaranya anggota DPRA F.PKS Bardan Saidi, A. Rahman TB, Aktivis dan dosen Fuad Mardhatilah, Mantan Kandepag Singkil Herman, Jamaluddin Ketua KNPI Aceh, Ilham Eks Anggota KIP, Hamdan Budiman wartawan, Kamaruddin Lembaga Perdamaian UIN Ar-Raniry, Rabitah Taliban Aceh Marbawi Yusuf, Hendra Saputra KontraS Aceh, Tgk. Rusli NU Banda Aceh, Suardy Saidi akademisi, Subur Dani Wartawan Serambi Indonesia, dan Nurmalis.[](tyb)