BANDA ACEH – Pengamat Politik dan Keamanan Aceh Aryos Nivada mengatakan penyelenggaraan pilkada 2006 diwarnai penyerangan, pembakaran serta pelemparan granat ke 16 kantor Partai Aceh, bahkan 15 mobil rusak. Data itu tercatat di buku keluaran The Habibie Center berjudul Demokrasi Paska Konflik, Kekerasan, dan Pembangunan Perdamaian di Aceh dan Maluku.
Saat pelaksanaan pilkada 2012, kata Aryos, data SNPK menunjukkan kekerasan meningkat 13 kali lipat dari tahun 2006. Hasil penelitian The Aceh Institute dan Forum LSM Aceh selama proses pilkada berlangsung hingga selesai menemukan 40 kasus kekerasan. Tindakan kekerasan tersebut 80 persennya terjadi di wilayah pesisir timur Aceh, antara lain di Pidie, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur, kata Aryos dalam keterangannya diterima portalsatu.com, Senin, 13 Juni 2016.
Aryos menyatakan, berangkat dari pengalaman itu, kondisi keamanan menjelang pilkada 2017 berpotensi mengalami kembali ekskalasi kekerasan dan tindakan intimidasi. Bahkan tindakan pembunuhan berpeluang terjadi, ujarnya.
Peran aktif kepolisian yakni Polda Aceh sangat diutamakan dalam pencegahan dan meminimalisir terjadinya tindakan kekerasan fisik hingga menghilangkan nyawa dan intimidasi. Namun pelibatan elemen masyarakat sipil sangat diperlukan untuk bersama-sama membantu kerja-kerja kepolisian dalam mewujudkan stabilitas keamanan, Aryos menambahkan.
Saat ini, kata Aryos, langkah Polda Aceh patut diapresiasi, karena sudah membentuk tim khusus pencegahan tindakan kekerasan fisik dan intimidasi di pilkada 2017. Hal lainnya telah meminta perbantuan dari Polda Sumatera Utara dan Padang guna mencukupi kebutuhan personel untuk menjaga keamanan agar tetap stabil di pelaksanaan pilkada 2017.