BANDA ACEH — Peubeudoh Sejarah Adat dan Budaya (Peusaba) Aceh meminta Wali Kota Banda Aceh, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat agar menggunakan sistem teknologi Radar Scanning dan Tomography untuk mendeteksi seluruh kawasan situs di Gampông Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.
“Teknologi ini dapat mendeteksi kandungan yang ada di dalam tanah, baik itu nisan, tembikar,, fondasi bangunan dan lainnya,” kata Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman melalui siaran pers, Minggu, 30 Agustus 2017.
Dalam hal ini kata Mawardi, Peusaba Aceh merekomendasikan dua tenaga ahli yaitu T.A. Sanny, ahli georadar scanning asal Aceh. T.A. Sanny pernah terlibat dalam tim penelitian situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Ahli lainnya yaitu Dr. Kamal Arif, yang juga peneliti Gampông Pande.
“Dengan adanya sistem GEO Radar Scanning ini, harapannya semua persoalan tentang situs sejarah Gampông Pande bisa selesai, dan dapat dilanjutkan dengan pengembangan kawasan baru di wilayah tersebut berupa taman, mesjid dan istana kayu berukir,” katanya.
Peusaba mengingatkan agar Pemerintah Aceh bisa memanfaatkan tenaga ahli asal Aceh. “Pemerintah Aceh jangan hanya bangga dengan istana kuno di luar negeri, saatnya membangun ulang istana Aceh sendiri,” katanya.[]
Laporan Taufan Mustafa