Sapi yang dilagakan adalah sapi pilihan yang telah mempunyai reputasi julukan nama. Seperti: Rimueng Meujanggot, Raja Muda, Syeh Maneh, Buleun Raja Timoh, Jempa Aceh, Gunteng Waja, Timphan Urik, Aneuk Beude Meuh, dan Buya Itam.

Sebutan “Peupok Leumo” adalah dari bahasa Aceh dengan pengertian, peupok = meng-adu/melagakan, sedangkan leumo artinya sapi atau lembu. Kesimpulannya, “mengadu sapi” atau pertarungan sapi.

Sejak dulu masyarakat Aceh suka memelihara ternak seperti kerbau, sapi, kambing serta ternak unggas lainnya. Sapi dan kerbau dulu dibawa ke Medan baik dengan jalan kaki ataupun pakai gerobak kereta api untuk dijual. Tidak heran kita melihat banyak sapi berkeliaran di sawah, di lading, bahkan di jalan raya sambil tidur-tiduran dan tidak takut dengan lalu lintas kendaraan. Seolah-olah tidak mau ambil peduli atau tenang-tenang saja, dan santai terus mengunyah.

Hampir setiap petani mempunyai satu atau dua ekor untuk kebutuhan membajak sawah. Bagi mereka yang mempunyai banyak sapi, biasanya dijual pada waktu puasa, mendekat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Saat seperti itu ada pedagang yang mau membeli kulit-kulit sapi sembelihan untuk dijemur/dikeringkan kemudian ada yang mengekspornya ke Penang (Malaysia).

Di Aceh Besar, misalnya, sapi-sapi jantan dipelihara, diberikan makanan khusus agar cepat besar dan padat isi badannya, dirawat, ditidurkan dalam kandang yang dibuat khusus, dan dimandikan secara teratur, terutama untuk sapi yang akan dipotong.

Adu sapi

Kejadian perkelahian ini mungkin akan menggambarkan dua hal: pertama, ingin pemiliknya/juri cepat-cepat meleraikannya. Kedua, perkelahian merupakan hal yang mengasyikkan dan mengandung unsur keberanian di antara sapi yang diadu itu.

Adu sapi secara formal biasanya dilakukan setelah memotong padi di sawah, di suatu lapangan terbuka, sore hari. Ini merupakan permainan/pertunjukan hiburan yang agak keras yang harus punya keberanian, dan digemari oleh semua masyarakat.

Sapi biasanya dipilih pasangan-pasangannya yang sebaya, baik besar/kuat/otot-otot/tingginya. Jauh sebelum hari dan tanggal adu diadakan, terlebih dahulu diberitahukan kepada yang empunya sapi tentang kesediaannya. Bila disanggupinya maka mereka harus siap merawat, memberi makan yang cukup dimandikan, dipicit-picit dan malam hari ditidurkan di sebuah kandang khusus.

Pemilik sapi tersebut dibantu oleh temannya sekampung. Biasanya masyarakat sekampung menaruh simpati atas penampilan sapi yang dapat diandalkan dan dibanggakan itu. Terlebih terhadap sapi yang telah mendapatkan julukan nama, umpamanya “Raja Wali”, dan sebagainya. Hampir setiap kampung mungkin telah mempunyai sapi yang dapat diandalkan dan telah ada nama julukannya.

Hubungan dengan peristiwa lain

Biasanya adu sapi ini diadakan saat ada pertandingan bola. Sebagaimana diketahui, sepak bola sangat digemari masyarakat Aceh, terutama dengan adanya ekstra penampilan adu sapi, makin bertambah banyak peminatnya. Biasanya saat itu penduduk kampung datang berduyun-duyun, dan merupakan “kerugian besar” bila tidak dapat menyaksikan permainan bola dan ekstra adu sapi. Karena, kedua jenis permainan tersebut sangat disenangi khalayak ramai.

Tanpa pertandingan bola, dulu diadakan khusus adu sapi saja. Dipilih beberapa pasang yang telah punya nama juara, dan telah terkenal keunggulannya. Pada penampilan pertandingan bola yang diselingi adu sapi, dilaksanakan saat sebelum pertandingan bola dan sesudah istirahat bermain bola pada suatu areal atau lapangan tertutup, karena dipungut bayaran.

Pendukung permainan ini ialah orang dewasa. Tentunya mereka yang punya sapi yang tegap/kuat/gesit, bisa saja dimiliki oleh bangsawan atau rakyat biasa tanpa ada perbedaan, tidak ada statifikasi sosial atau tanpa memandang derajat.

Pilihan jenis sapi bagi mereka yang mempunyai keahlian. Sejak kecil mereka telah dapat menaksirkan, kelak sapi yang dipilihnya akan menjadi jagoan. Untuk ini menghendaki rawatan/perlakuan yang baik secara teratur dan intensif.

Asal usul

Kapan munculnya permainan ini, sulit dapat dipastikan jawabannya, karena ini telah diwarisi sejak dulu dari orang tua masa silam.

Selain permainan adu sapi, di daerah lainnya ada pula adu kerbau, yang kemungkinan timbul karena melihat kenyataan sehari-hari. Ada perkelahian sapi, kerbau, ayam yang tak terorganisir. Ada rasa ingin melihatnya dari dekat, bagaimana kegiatan masing-masing dalam menanduk/bertahan dengan otot-otot yang berisi. Bisa saja dari kejadian-kejadian ini, lalu timbul ide untuk menampilkan secara formal ke suatu gelanggang/arena.

Manfaat tenaga sapi banyak memberi keuntungan kepada manusia. Seperti dapat dijadikan tarikan gerobak, membajak sawah terutama kalau tanahnya keras akibat terlambat datang musim hujan. Juga sapi semacam ini kalau dijual harganya pun jauh lebih mahal.

Meski permainan adu sapi sangat disenangi masyarakat, namun frekwensi penampilan sejak dulu kemungkinan tidak sering diadakan/dipertunjukkan dibandingkan jenis permainan lainnya. Hal ini karena harus diadakan di tempat yang tertutup, dan memerlukan perhitungan yang matang tentang biaya yang diperlukan, baik membuat pagar tertutup, mencari pasangan-pasangan sapi tangguh, mencari dua kesebelasan pemain bola.

Pemain/pelaku

Untuk setiap penampilan adu sapi ini diperlukan sepasang sapi yang kuat, berotot dan sebaya besarnya atau sama ukurannya. Sedikit banyak telah dikenal identitasnya dan setiap sapi harus dipegang tali hidungnya oleh seorang (biasanya pemiliknya yang menangani tugas ini). Kemudian di lapangan dibantu oleh beberapa orang panitia, seperti seorang penari yang dapat menggerakkan kemarahan sapi, dan beberapa orang pembantu pemegang-tali sapi guna menjaga agar jangan sampai berakibat kurang baik terhadap penonton yang mengelilingi lapangan tersebut.

Biasanya disiapkan minimal lima pasang sebelum pertandingan bola dimulai, dan pada waktu istirahat dua pasang. Bila khusus adu sapi saja yang dipertontonkan sekurang-kurangnya harus tersedia 10 – 15 pasang sapi.

Perlengkapan

Oleh panitia setibanya di lapangan, sapi yang akan diadu itu diganti tali kekangnya (hidung) dan diberi tali hidung yang baru.

Ada kalanya pada bagian kepala dekat tanduk disematkan kain warna merah untuk merangsang agar mudah terjadi perkelahian.

Iringan permainan tidak ada, biasanya sudah cukup meriah dengan adanya sorakan, teriakan dan komentar para penonton.

Jalannya permainan

Sapi-sapi yang dipertunangkan ini, biasanya telah dikenal masyarakat sekitamya, sekurang-kurangnya telah punya nama harum yang dapat diandalkan di arena. Oleh yang empunya sapi, jauh sebelumnya telah dipersiapkan sapi tersebut dengan pemberian makanan yang teratur, dimandikan, dipijit badannya, dipertajam tanduknya, dan diperbuat sebuah bale-bale untuk teman-temannya yang terdekat, guna membantu merawat sapi tersebut, hingga tiba saatnya dibawa ke gelanggang pertandingan.

Maka pada hari yang telah ditetapkan, sapi tersebut digiring ke arena pertandingan. Setibanya di tempat tersebut tali pada hidung sapi, diganti dengan tali yang disediakan panitia. Lebih kurang satu jam sebelum permainan bola kaki dimulai, dan setelah babak I (dalam waktu istirahat/pouse, diadakan permainan adu sapi yang dikendalikan orang dewasa.

Sapi tersebut dipertemukan dengan jalan menciumkannya masing-masing, dan berangsur-angsur sapi tersebut mulai berkelahi, dorong mendorong, tanduk-menanduk, bertahan jangan sampai tersurut ke belakang dan sebagainya. Masing-masing dengan kekuatan otot-otot sambil ekornya mulai mengipas dan mencelat ke atas, kaki muka dan belakang turut memberikan reaksi, maju mundur. Sehingga tak berapa lama kemudian akan tampak seekor yang akan mengalah atau lari, tidak berani lagi berkelahi, dan ini dianggap suatu kekalahan.

Biasanya pertandingan ini ditetapkan waktunya per pasang 10 menit. Bila dalam waktu 10 menit tak ada yang kalah, maka oleh tim juri ditetapkan seri.

Sapi-sapi yang dipertandingkan hampir semuanya telah mempunyai nama julukan. Berarti sapi-sapi pilihan yang telah pernah/sering tampil dalam gelanggang peupok leumo.

Memang sejak awal panitia telah mempunyai suatu daftar inventaris, sapi-sapi yang telah tersohor namanya untuk dipertontonkan dalam suatu pertandingan. Karena sedikit banyaknya hal ini ada kaitannya dengan daya tarik atau banyaknya para pengunjung/penonton untuk melihat peupok leumo dan bola kaki.

Berikut pertandingan peupok leumo yang sempat disaksikan tim penulis:

Peupok leumo yang ditampilkan dalam gelanggang pertandingan bola kaki ini, lokasinya atau daerah obserpasinya diambil di lapangan bola perkampungan Beurawee (Kodya Banda Aceh) pada Minggu, 24 November 1985, sore. Tim melihat cukup banyak para peminatnya/penonton walaupun biaya karcis masuk Rp 500 per orang. Karena sebelum pertandingan bola kaki dimulai, sebagai selingan atau pembukaannya ditampilkan empat pasang sapi bertarung berturut. Kemudian baru acara yang sebenarnya dimulai; yaitu permainan dua kesebelasan sepak bola antarkampung. Setelah istirahat (pouse) ditampilkan lagi peupok leumo dua pasang berturut-turut, dan sesudah itu baru tampil kembali sepak bola babak kedua (akhir).

Sapi yang dipertandingkan itu, ada yang diundang atau didatangkan dari perkampungan yang jauh letaknya, atau di luar Kota Banda Aceh, seperti dari daerah Lampakuk. Tingkeum, Matale dan sebagainya. Berarti memang sapi pilihan yang telah mempunyai reputasi julukan nama seperti; Rimueng Meujanggot (Harimau Berjenggot), Raja Muda, Syeh Maneh (Syeh Manis), Buleun Raja Timoh (pelangi). Jempa Aceh, Gunteng Waja, Timphan Urik (sejenis nama kue yang di dalamnya disi kelapa yang telah tua), Aneuk Beude Meuh (anak bedel mas), Buya Itam (Buaya hitam), dan lain-lain.

Sapi yang telah disepakati tampil pada sore hari itu dibawa ke arena dengan terlebih dulu diikatkan tali hidung sapi tersebut ke salah satu batang kayu (batang pinang). Kemudian ditambah sebuah tali lagi yang juga diikat pada batang pinang lain dengan catatan bahwa tali tambahan tersebut, satu ujung talinya ke gleung-gleung (ring tali hidung sapi) dan satu lainnya ke batang pinang, sehingga kepala sapi tersebut tidak leluasa lagi bergerak. Bila tiba gilirannya untuk bertanding, maka segera dapat memasuki arena pertandingan tali hidung sapi tersebut akan diganti dengan tali hidung sapi yang disediakan panitia. Karena bagaimana pun sebagai syarat mutlak suatu pertandingan harus tali hidung yang dipergunakan adalah yang disediakan panitia. Hal tersebut dimaksudkan agar terdapatnya suatu keseragaman panjang tali kedua pihak. Karena dalam pertandingan disamping kekuatan sapi sendiri, juga pengendalian tali hidung sapi, mempunyai pengaruh yang besar terhadap kalah atau menangnya suatu pertarungan.

Di dalam pertandingan biasanya kedua sapi yang akan dipertemukan untuk diadu, keluar dari masing-masing jurusan/arah yang berlainan dan digiring untuk dipertemukan di tengah-tengah tanah lapang. Penggiring seekor sapi untuk masuk gelanggang biasanya dilakukan oleh seorang yang memegang tali hidung (biasanya ditangani pemiliknya sendiri), dan seorang lagi sebagai peuteun taloe (menahan tali) yaitu tali yang disangkut pada tali hidung ke arah dekat dengan hidung sapi.

Setelah sampai di tengah tanah lapang maka kedua sapi itu dipertemukan (geupeucom = diciumkan) dengan jalan menarik masing-masing tali hidung ke bawah yang dibantu oleh seutas tali lain yang dipegang oleh orang peuteun talo, dan menarik menyamping ke bawah, sehingga masing-masing kepala tanduk sapi berada secara menunduk (ke bawah). Bila kedua sapi mulai beraksi maka pemegang tali peuteun talo serentak menarik talinya, dan hanya tinggal masing-masing pemilik dengan tugas mengendalikan tali hidung sapi saja.

Sebelum sapi itu muncul oleh panitia telah dipersiapkan masing-masing nama jujukan sapi-sapi yang akan diadu secara berpasangan dan pada waktu pemunculannya. Di arena, seorang komentator dengan memakai mic tangan sebagai pengeras suara menyiarkan acara-acara yang akan dilakukan serta komentar jalannya pertandingan sapi (seperti ala reporter acara bola kaki pada siaran RRI).

Seorang juri selalu berada di lapangan, yang bertindak selaku wasit menentukan kalah, menang atau seri dan dalam bahasa Aceh seri disebut “tareek“. Biasanya pertandingan setiap pasang sapi berjalan maksimal 10 menit, bahkan kalau pertandingan tidak seimbang baru satu menit saja, salah satu sapinya mengalah. Kalau pasangan tadi seimbang kekuatannya, masing-masing silih berganti mendorong dengan kepalanya sambil menanduk dan kalau situasi terus berjalan begini saja, maka wasit berhak menghentikan, berhubung telah cukup waktu 10 menit, dengan memberi nilai seri.

Dikatakan kalah bila lawannya mengejar, sapi yang kalah itu takut dan lari. Keberanian, gesit, cekatan, lincah dan sebagainya, adalah hal yang harus dipunyai oleh masing-masing pemegang tali hidung sapi. Kalah menangnya sapi tergantung pada pemegang tali hidung sapi, karena seorang yang ditugaskan ke arah ini, harus dapat berlindak kapan tali dikendorkan dan kapan harus ditarik tegang, sambil ikut melompat-lompat mengikuti gerakan-gerakan sapi dan berteriak-teriak memberi semangat agar bisa menang.

Adakalanya sapi tersebut sewaktu lari karena kalah, ingin meninggalkan lapangan segera, dengan lari tidak tentu arah. Agar penonton di sekeliling arena tersebut tidak tertanduk, biasanya yang punya sapi serta dibantu oleh beberapa orang, mengendalikan sapi tersebut lewat tali hidung dan bila perlu dapat dilemparkan lagi tali tambahan lainnya kekepalanya, sehingga sapi tersebut akan dapat dikendalikan seperti semula, tetapi hal ini jarang terjadi.

Bila pertandingan/adu sapi ini bukan merupakan suatu selingan di dalam permainan bola kaki, maka diadakan khusus pertandingan sapi, yang memerlukan pahng sedikit 10 – 15 pasang sapi. Cara mengadunya seperti tersebut di atas, tapi akhir ini jarang dilakukan, mengingat kemungkinan besar sponsornya akan mengalami resiko rugi andaikata usahanya itu gagal.

Pemegang tali sapi dikala bertanding, harus pandai mengatur saat dikendorkan, bila perlu ditarik menurut keinginan sapinya. Hal ini memerlukan kecakapan ketrampilan, ulet dan keberanian, karena kalau sempat tali hidung itu lepas atau putus, besar kemungkinan sapi tersebut akhirnya akan kalah. Jarang terjadi dalam pertandingan seperti ini sampai ada yang mati atau cidera, begitu juga terhadap sipengendali sapi tersebut, hampir tak ada kejadian sampai mendapat kecelakaan atau patah, paling-paling badan, kepala sapi sedikit tergaris, dan ujung tanduk akan sedikit lecet-lecet.

Bila terjadi sampai cidera total/mati, maka hal ini akan menjadi resiko panitia. Seekor sapi yang baik, biasanya tergantung pada perawatan sehari-hari, terutama makanannya, seperti rumput gajah, rumput biasa, kadang-kadang sayatan bagian dalam dan batang pisang, ada juga memberi sejenis pisang, dimandikan dipijit dan ditidurkan dalam kandang yang khusus dibuat untuk seekor sapi yang disayangi.

Satu hal yang dipusakai dan masih dijaga sebaik-baiknya dari orang-orang terdahulu atau nenek-nenek mereka, ialah walaupun mereka kalah, mereka tidak dendam dan permainan berjalan secara spotif, tertib dan sopan serta tetap patuh kepada keputusan juri.

Dari kalangan pecandu adu sapi itu, tampak hal yang dilakukan itu merupakan suatu hobby belaka. Adu sapi ini termasuk salah satu permainan games of sport yang tetap masih digemari masyarakat ramai.

Tanggapan masyarakat

Sapi yang keluar sebagai pemenang, ini akan menjadi kebanggaan penduduk dikampung ini, dapat membuat suatu kelompokan dan menjadi kekeluargaan yang lebih intim.

Belakangan, frekwensi pertandingan sapi, makin menurun bahkan lambat laun kemungkinan menuju kepunahannya. Hal ini disebabkan orang-orang dewasa saat ini, lebih senang mencari hobi lain yang lebih menguntungkan.

Untuk mengadakan pertandingan yang semacam ini haruslah dengan suatu perencanaan yang cukup matang, karena besarnya biaya yang diperlukan. Kendatipun demikian permainan ini masih tetap digemari masyarakat, dan bagaimana cara melestarikannyajni terserah kepada kita bersama, antara lain mungkin memerlukan managemen yang lebih baik serta perhitungan cukup matang dan dari sudut bussinis memerlukan penampilan yang bermutu dan menarik, selain pengaturan tempat yang baik.

Animo masyarakat jelas terlihat pada pertunjukan yang diadakan itu cukup interes, dan sapi yang ditampilkan semuanya berbadan tegap dan berotot padat, karena dirawat dengan baik. Tenik perawatannya perlu dikembangkan dan diwariskan kepada generasi muda.

Puepok leumo memerlukan latihan/keterampilan yang harus dipelajari, selain dituntut keberanian/ketenangan dan mental atau fisik yang kuat dan ketekunan.[](*)

Sumber: “Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh”, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.