TERKINI
GAYA

Mengenal Geudeu-Geudeu

Geudeu-geudeu sejenis permainan yang dapat digolongkandalam klasifikasi games and sport. Sebagai permainan kompetitif (games of strategy) menghendaki ketananan mental, jiwa, fisik, kecerdasan/ketangkasan, karena merupakan adu…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

Geudeu-geudeu sejenis permainan yang dapat digolongkandalam klasifikasi games and sport. Sebagai permainan kompetitif (games of strategy) menghendaki ketananan mental, jiwa, fisik, kecerdasan/ketangkasan, karena merupakan adu kekuatan yang kadang-kadang mengerikan.

Sebutan geudeu-geudeu atau sering disingkat juga Deu-deu, adalah permainan ketangkasan yang hanya terdapat di daerah Pidie saja. Permainan ini telah ditampilkan sejak zaman dulu pada masa/zamannya Ulee Balang, lambat laun kemudian berkembang menjadi permainan di kalangan masyarakat biasa serta digemari terutama oleh anak-anak muda.

Waktu pelaksanaan

Biasanya permainan ini dilakukan sehabis panen padi, dan waktu senggang sore hari, menjelang tibanya saat mangrib dan bisa juga tatkala bulan sedang purnama. Mereka secara iseng-iseng ingin menggerakkan kembail otot-otot yang selama ini sudah kaku, maka mereka melakukan permainan ini (dengan ukuran berat yang berimbang).

Kadang dilakukan pertandingan dengan sungguh-sungguh antarkampung pada sore atau malam harinya.

Latar belakang

Permainan ini pada umumnya didukung oleh anak-anak muda, yang hanya tubuh kekar/tegap, tanpa membedakan stratifikasi sosial budaya. Siapa saja dibolehkan bermain, asal punya ketahanan fisik yang dapat diandalkan.

Permainan ini tidak didasari permusuhan atau dendam, tapi suatu permainan yang dilakukan secara sportif dan atas dasar senang sama senang. Ketimbang tidak ada kegiatan lain, sambil duduk menanti saat menjelang tidur malam di meunasah. Kadang-kadang harus dapat menanggung risiko sendiri, bila umpamanya akibat permainan tersebut tangan terkilir atau patah.

Kepastian kapan lahirnya jenis permainan ini sulit diungkapkan, karena ini telah diwarisi dari nenek-nenek mereka terdahulu.

Oleh karena permainan ini mengandung risiko yang berat, sehingga perkembangannya tidak sampai meluas atau ditiru kabupaten/kota lainnya. Padahal permainan ini merupakan seni bela diri dari serangan rnusuh, yang sangat berguna dan tanpa memakai senjata tajam.

Pemain/pelaku

Pelaku utamanya tiga orang. Seorang sebagai tukang tueng/theuen (penerima serbuan) dan dua orang lagi sebagai tukang pok (menyerbu).

Selain itu, arena pertandingan ataupun secara iseng-iseng bertindak pula empat orang juru pemisah, yang disebut “ureung seumeumbal” sebagai wasit, yang berdiri selang seling mengawasi setiap permainan. Kadang-kadang cukup seorang wasit saja. Wasit ini pun haruslah dari bekas permainan jagoan geudeu-geudeu dahulunya dengan kondisi badan tegap dan kuat sebagai ahli pemisah.

Tukang theuen harus mampu bertahan sembari memukul atau menghempas lawannya kedua orang tadi. Sedangkan kedua lawannya itu dibenarkan untuk menghempas lawannya yang seorang itu.

Peralatan /pelengkapan

Permainan ini tidak memerlukan pelengkapan, karena petarungan ini dengan tangan kosong, yaitu gerakan memukul dan menghempas (membanting).

Arena permainan harus bersih dan berbentuk segi empat dengan luas satu rante atau 25 x 25 meter.

Tidak ada iringan, tetapi cukup meriah karena di sekitar arena tersebut terdapat banyak orang yang menyaksikan sebagai penonton, sambil berteriak memberi semangat para pelaku.

Jalannya permainan

Di suatu tempat yang telah ditetapkan, pertandingan antarkampung baik sore atau malam harinya. Pada waktu yang telah disepakati bersama, berkumpullah para pelaku tersebut dalam suasana persaudaraan.

Setelah tiba waktunya maka tampillah wasit-wasit berdiri secara selang-seling di antara pemain. Tugasnya mengawasi jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Biasanya cukup dengan seorang wasit.

Jalannya permainan geudeu-geudeu ini ialah seorang yang berbadan tegap tampil memasuki arena disebut pihak pertama atau pihak tueng/theuen, ia sebagai pihak yang akan menentang dua orang lawannya juga mempunyai masing-masing tubuh/badan yang tegap atau disebut pihak kedua dengan istilah pihak pok.

Pihak pertama tampil seorang, dalam keadaan tetap waspada dengan posisi ke dua kakinya terhujam dan melekat kuat ke bumi. Matanya tak berkedip, siap untuk menanti serbuan lawannya yang dua orang itu. Pihak pertama atau disebut tueng (menerima) agar pihak ke dua yang terdiri dari dua orang itu, menyerbu kepadanya.

Masing-masing berpegangan tangan (matjaroe) antara sesamanya, kemudian mendekati lawannya mencari slag kapan saatnya yang baik untuk merangkul dan menghempas lawannya yang sendirian itu. Bila terjadi penyerbuan, pihak pertama berhak untuk memukul dan menghempaskan penyerangnya. Sedangkan pihak kedua (yang pok) hanya boleh menghempas pihak pertama.

Permainan ini di samping adu kekuatan juga harus dibarengi dengan teknik, tidak ubahnya seperti permainan silat atau karate.

Bila pihak pertama sanggup memukul dan menghempas pihak kedua, maka dalam hal ini wasit dapat menetapkan pihak pertama sebagai pemenang atau sebaliknya.

Lamanya setiap ronde permainan tidak ada ketentuannya. Hal ini tergantung situasi dan keadaan. Bila mereka sudah terasa penat/letih, maka oleh wasit dapat dihentikan. Kemudian masuk partai yang lain, juga terdiri dari tiga orang dan terus berjalan sedemikian rupa sehingga tiba saatnya untuk acara bubar.

Tapi bila geudeu-geudeu dipertandingkan antarkampung, maka kalah atau menangnya betul-betul dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bila dalam permainan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan umpamanya terkilir/patah, ini biasanya menjadi risiko masing-masing, karena di Aceh hampir setiap perkampungan mempunyai ahli urut/patah, bahkan ada yang mampu mengurut dari jarak jauh (dengan daun pandan atau on ngom). Ada juga para pelakunya memakan kerak manisan katanya sebagai tambahan vitamin untuk mengencangkan otot.

Tanggapan masyarakat

Tujuan permainan ini adalah semata-mata untuk peningkatan (ketangkasan) serta memupuk ketahanan jiwa agar berani.

Permainan geudeu-geudeu hampir sama seperti permainan silat, karate, judo, sebagai seni bela diri dalam melatih fisik agar lebih lincah, refleksi yang tajam serta gerakan-gerakan yang cepat. Bedanya hanya geudeu-geudeu formasi permainan tiga orang. Sedangkan judo, silat, karate cukup dua orang. Geudeu-geudeu dilakukan dengan tangan kosong dan tanpa ada pengaman apapun di badan.

Permainan ini sangat digemari masyarakat banyak di Pidie. Harus dipikirkan bagaimana cara menyebarluaskan ke daerah-daerah lain, sehingga lambat laun akan disenangi terutama oleh angkatan muda. Semoga dapat diproses secara bertahap, sehingga nantinya dapat dikenal di seluruh Tanah Air kita.

Untuk promosi atau perkenalan permainan ini, antara lain bisa lewat penampilan/syuting TVRI. Alangkah sedihnya bila suatu saat generasi penerus tak sedikit pun mengetahui tentang adanya jenis permainan sport of games geudeu-geudeu ini yaitu suatu seni bela diri yang mempunyai teknik tak kalah dari permainan-permainan lainnya.[]

Sumber: “Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh”, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar