TERKINI
SPORT

Pesona Pante Bahagia di Pedalaman Aceh Utara

Aliran sungai dengan hamparan bebatuan itu sangat cocok dijadikan tempat berenang bersama anggota keluarga.

NUSI P SEURUNGKENG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 6.2K×

LHOKSUKON –  Meski berada di kawasan pedalaman Aceh Utara, pesona Pante Bahagia tak kalah saing dengan keindahan objek wisata Blang Kolam (di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara) atau Batee Iliek (Bireuen). Akan tetapi, akses jalan yang sulit membuat masyarakat enggan menginjakkan kakinya di aliran sungai Krueng Pante tersebut.

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya truk pengangkut batu dan pasir yang lalu-lalang dan kerap mengepulkan debu pekat, sehingga membuat pengendara sepeda motor sulit untuk bernapas. Ditambah lagi lokasi wisata itu sama sekali belum mendapat sentuhan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

Menurut masyarakat setempat, dulunya kasawan itu ramai dikunjungi wisatawan lokal. Namun banyaknya pelanggaran syariat Islam membuat kawasan wisata itu ditutup dan tidak lagi dikunjungi pendatang. Jarak tempuh pun menjadi penghalang tersendiri.

Dari Desa Dayah, Kecamatan Lhoksukon ke lokasi itu sekitar 28 Kilometer. Pengunjung bisa masuk dari sisi kanan Jalan Medan–Banda Aceh, tepatnya 50 meter sebelum mencapai jembatan Lhoksukon, jika datang dari arah Banda Aceh.

Teruslah berkendara di jalanan bersapal hingga ke Kecamatan Matangkuli. Nantinya, pengunjung masuk ke Kecamatan Paya Bakong. Jika tidak tahu arah jalan, cukup bertanya kepada masyarakat Matangkuli. Karena dengan senang hati mereka akan memberi petunjuk arah.

Saat memasuki Keude Paya Bakong hingga ke Desa Mampre, jalan masih beraspal hotmix. Namun untuk menuju Blang Pante, jalan hanya berupa pengerasan atau  belum diaspal. Kondisi itu menjadi salah satu kendala bagi pengunjung.

Sebenarnya Pante Bahagia merupakan nama sebuah kemukiman di pedalaman Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Objek wisata alam terdapat di tiga titik Desa Blang Pante. Masing–masing, Pante Kiro, Pante Bayan dan Pante Gajah. Lokasi terluas adalah Pante Kiro.

Di akhir pekan kawasan wisata tersembunyi itu hanya dikunjungi puluhan masyarakat saja. Itupun hanya warga yang bermukim di Paya Bakong dan sekitarnya, seperti Matangkuli, Pirak Timu dan Lhoksukon. Rata-rata pengunjung datang untuk berenang dan mencari batu kerikil putih untuk dibawa pulang. Baik untuk hiasan di pot bunga maupun ditabur di makam.

Pantauan portalsatu.com di lokasi, Minggu 18 Oktober 2015, aliran sungai dengan hamparan bebatuan itu sangat cocok dijadikan tempat berenang bersama anggota keluarga. Untuk anak-anak, cukup bermain di pinggir sungai dengan kedalaman hanya di bawah lutut orang dewasa.

Selain airnya yang sejuk, kawasan itu juga dikelilingi hamparan kebun masyarakat yang memanjakan mata. Berjarak 50 meter dari sungai terdapat pepohonan rimbun yang berjejer rapi.

Namun, akses jalan untuk turun ke lokasi itu, kini cukup sulit dibandingkan empat tahun lalu. Beberapa titik jalan masuk dialiri air yang menuju ke Pante. Jika datang  mengendarai mobil, jalur itu akan mudah dilalui. Namun bagi pengendara sepeda motor akan butuh keahlian khusus jika tidak ingin tergelincir karena jalan yang licin.

“Kami ingin mengaktifkan Pante Bahagia sebagai salah satu objek wisata pilihan di Aceh Utara. Untuk itu butuh dukungan pemerintah, khususnya kebutuhan sarana dan prasarana,” ujar Muhammad Abu, 34 tahun, warga Blang Pante ditemui di lokasi.

Ia menyebutkan, meski berada di kawasan pedalaman, saban hari kawasan itu tak pernah sepi. Puluhan truk pengangkut batu koral lalu-lalang dan standby di pinggiran Krueng Pante. Demikian juga masyarakat setempat yang mencari batu koral di sungai guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kawasan Blang Pante kian ramai sejak dimulainya pengerjaan bendungan. Selain truk, banyak mobil minibus dan double cabin milik pelaksana proyek yang berseliweran. Pengunjung memang masih minim, tidak ada peningkatan,” ujarnya.[]

NUSI P SEURUNGKENG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar