TAKENGON – Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, diminta untuk fokus pada pembangunan daerah di penghujung kepemimpinannya. Menyejahterakan rakyat dinilai menjadi hal penting dan beban puncak yang harus diwujudkan oleh pemimpin.
Demikian disampaikan oleh mantan Juru Bicara Partai Aceh (PA) Pusat, Linnga Dinsyah, kepada portalsatu.com saat ditemui di kediamannya di Takengon, Sabtu, 16 Januari 2016. Dia tidak melarang kedua tokoh tersebut untuk maju di Pilkada mendatang. Namun dia berharap keduanya tetap fokus memakmurkan rakyat.
“Jangan jadikan akhir dari jabatan ini sebagai ajang politik,” kata Lingga Dinsyah.
Mantan kombatan GAM lulusan Libya ini mengakui belum tercapainya cita-cita menyejahterakan rakyat Aceh secara menyeluruh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah. Meskipun Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) melimpah, tetapi Aceh masih masuk dalam kategori provinsi termiskin dan tertinggal. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai sektor seperti sumber daya manusia, ekonomi, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur yang tidak merata.
“Kalau dibilang tidak ada (bekerja) juga tidak boleh. Keduanya (Zaini-Mualem-red) memang sudah bekerja, tapi belum maksimal. Buktinya tak usah jauh, munculnya kelompok bersenjata di Aceh yang notabenenya dari mantan kombatan, dan mereka menuntut kesejahteraan. Ini bukti rakyat lapar,” ujar Lingga Dinsyah.
Alumni University Al Fatah, Libya, ini juga meminta Pemerintah Aceh untuk tidak mengedepankan sikap egois dalam menjalankan roda pemerintahannya. Dia bahkan menyarankan agar Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf untuk tetap akur supaya mampu menjalankan program yang telah dirancang. Lingga Dinsyah juga meminta Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh tidak mempertontonkan perangai tidak terpuji kepada publik.