BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar, mengungkapkan beberapa kesulitannya menjabat sebagai Wali Nanggroe Aceh. Ia mengatakan menjadi orang yang dituakan harus menjaga beberapa hal, salah satunya adalah tutur bahasa.

“Seulaku Wali Nanggroe, brat that payah ta peutimang droe teuh, seubab sebagoe Wali Nanggroe dan ureung tuha di Aceh, lon payah lon jaga narit lon bek sampe meusireuk,” kata Wali Nanggroe Aceh saat memberikan sambutannya dalam perayaan Milad GAM di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Jumat, 4 Desember 2015.

Ia juga mengatakan semua perkataan yang dikeluarkan harus dipertimbangkan dengan sedemikian rupa. Pasalnya, perkataannya itu akan menjadi pegangan bagi masyarakat di Aceh.

“Payah ta jaga narit, kareuna pue yang lon peugah dimat lee ureung,” kata Malik Mahmud.

Di sisi lain, Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud berharap perjuangan dan perdamaian Aceh dapat dimaknai positif oleh berbagai kalangan. Ia meminta semua pihak untuk menjaga hal tersebut.

“Perjuangan dan perdamaian Aceh yang sudah ada pada hari ini jangan sampai dirusak, atau diganggu oleh orang yang tidak bertanggung jawab, butuh persatuan untuk membangun aceh ini,” kata Wali.[]