TERKINI
PROFIL

Percakapan dengan Heri Wakil Panglima Kuta Pase tentang Makam Muallim yang dipindahkan di Jeuleukat

HARI itu, masih dalam masa Hari raya Idul Fitri 1438 H, aku berbincang dengan Heri, Wakil Panglima Kuta Pase, di sebuah kedai kopi di Kota…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.1K×

HARI itu, masih dalam masa Hari raya Idul Fitri 1438 H, aku berbincang dengan Heri, Wakil Panglima Kuta Pase, di sebuah kedai kopi di Kota Lhokseumawe, 28 Juni 2017.

Setelah pembicaraan panjang dan lama, percakapan mengarah pada penelitian sejarah.

“Geutanyoe nyoe ureueng peutimang, Yeb. Bandum hai yang rakan peugah suwah tatampong. Yang suwah tajaga sit, rakan-rakan yang mantong got nan, na peungaroh, suwah tajaga.”

Lalu pembicaraan mengarah pada penelitian sejarah, yang dilakukan CISAH, Mapesa, dan kegiatan kebudayaan yang dilakukan PuKAT.

“Dum na na data sejarah yang ka meutume?” Tanya Heri.
“Le, jai.”
“Yang ka na nyan, tingkat toh yang na nan bak batee (batu nisan Aceh). Meunyoe bak tanyoe kiban?”

“Sultan, laksamana, qadhi, dan banyak lagi. Itu yang pimpin penelitian dan baca adalah Taqiyuddin Muhammad.”

Lalu aku mendekatkan wajah kepadanya supaya tidak terdengar orang lain di sana,
setengah berbisik, “Termasuk yang paling penting, itu makam Muallim atau nahkoda kapal perang Kesultanan Samudra Pasai (Sumatra), yang oleh walikota Lhokseumawe Suaidi, itu makam dipindahkan karena membangun waduk Jeuleukat. Itu makam penting sekali.”

Krum. Brak!

Heri tersentak, sama dengan reaksi aku dulu tersentak tatkala pertama kali mendengar kabar tragis tentang penghinaan pada artefak data tokoh penting tersebut.

“Tulong tunyok tempat asli makam nyan, nyan suwah tapinah bak sot. Tayue pinah bak sot,” kata Heri, dengan nada suara meninggi sekejap.

“Kadang sit di tempat asli makam nyan ka jeut keu kulam,” kataku.

“Hana kulam. Nyan waduk ata ka jameun ka na, cuma dipoles, jadi makam nyan suwah tapinah bak sot. Suwah jak takalon. Pinah bak sot!” kata Heri, tegas.

(Setelah kubaca ulang berita di unsyiah.com, ternyata kompleks makam Mualim Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai) itu digusur karena dibangun perumahan PNS KORPRI bukan waduk (bendungan), di Jeuleukat. Dekat itu juga.).

Aku mengajak Heri langsung esoknya mengunjungi tempat itu karena ia ingin dan kalau lama lagi aku tidak bisa menemaninya.

Akan tetapi, dengan pertimbangan hari raya, maka kompleks makam Muallim itu akan dikunjungi sekira hari raya kesepuluh bersama anggota CISAH, karena aku harus segera balik ke Banda Aceh.[]

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar