DI ERA revolusi, tidak semua orang yang mengaku sebagai pejuang berprilaku baik. Kala itu selain para pejuang yang memang benar-benar melawan Belanda, ada juga jenis pejuang yang kerjaannya nyusahin rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949).
Mereka yang mengatasnamakan berjuang demi kemerdekaan, sesungguhnya hanya terdiri dari para penumpang gelap revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa (mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo).
Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi pun juga terjadi. Bahkan dengan memakan korban jumlah uang yang lumayan banyak. Inilah salah satu kisahnya.
Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, ia tidak saja disambut secara gempita tapi juga didapuk oleh tokoh-tokoh setempat untuk menyebut sesuatu hal yang menjadi kebutuhan urgen dari pemerintah barunya.
Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk membuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau kata Sukarno seperti dituliskan oleh M. Nur El Ibrahimy dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia (1979).
Begitu keluar ucapan tersebut dari mulut Sukarno, tanpa banyak cakap, rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon antrian para donatur (terdiri dari kalangan kaya maupun kalangan biasa) di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kutaradja (sekarang Banda Aceh) panjangnya sampai ratusan meter.
Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas (sebanding dengan jumlah 10 Milyar Rupiah untuk hari ini).