BANDA ACEH – Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mendesak Kejaksaan Tinggi Aceh mengusut potensi dugaan penyimpangan anggaran penggemukan sapi di Saree bersumber dari APBA 2019 dan 2020.
Berdasarkan penelusuran MaTA terhadap pengelolaan anggaran penggemukan sapi di UPTD Inseminasi Buatan Inkubator (IBI) di bawah Dinas Peternakan Aceh patut diduga terjadinya potensi pidana korupsi. “Fakta lapangan menunjukkan kondisi saat ini, sapi dengan jumlah 400 ekor dalam kondisi kurus dan tanpa makanan seperti tidak terurus secara benar. Sampai sampai pengakuan warga lingkungan sudah ada (sapi) yang mati,” kata Koordinator MaTA, Alfian, dalam siaran pers dikirim kepada portalsatu.com, Kamis, 4 Juni 2020.
Menurut Alfian, kondisi tersebut sangat bertolak belakang dengan rencana awal, di mana Pemerintah Aceh membangun perencanaan dengan anggaran yang besar. “Tata kelola anggaran patut diduga potensi korupsi. Pengelolaan sapi saat ini juga sangat memprihatinkan. Ini menjadi peristiwa berulang terhadap tata kelola pemerintah yang buruk dan tidak dapat ditoleransikan lagi. Uang rakyat harus dikelola dengan benar dan satu rupiah wajib dipertangungjawabkan,” tegasnya.
Secara anggaran berdasarkan penelusuran MaTA terhadap UPTD tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2019. Perinciannya: Pengadaan pakan konsetrat untuk peternak Rp2.331.350.000; Pengadaan hijauan pakan ruminasia Rp1.808.904.000; Pembangunan padang pengembalaan Rp1.500.000.000.