TERKINI
PROFIL

Pendongeng Jangan Bicara Sejarah

Saya segera menulis tentang perang Belanda di Aceh seputar tahun 1873 dan 1874, dengan menitik beratkan perhatian pada strategi perang, jumlah tentara, dan persenjataan antara dua kerajaan yang berperang di…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

MENULIS buku sejarah bukanlah hak terhormat para pemilik julukan kebangsawanan dalam dunia akademik. Itulah pernyataan beberapa orang, termasuk akademisi senior saat memintaku menulis buku sejarah tentang Aceh.

Mereka mencontohkan Ali Hasjmy yang bukan akamidesi bidang sejarah namun menulis tentang sejarah. Saya menolak saran itu karena hanya setengahnya yang benar.

Selain itu, mengingat kita hanya bisa menulis hal yang kita kuasai dengan baik, maka dalam bidang sejarah saya berencana menulis tentang masa perang Belanda di Aceh seputar tahun 1873 dan 1874. Hanya sekitar dua tahun itu, dengan menitik beratkan perhatian pada strategi perang, jumlah tentara, dan persenjataan antara dua kerajaan yang berperang di Aceh, yaitu Kesultanan Aceh Darussalam dan Kerajaan Belanda.

Buku yang rencana kutulis itu akan menjawab bagaimana dan mengapa Aceh kalah perang saat itu. Saya tengah mengumpulkan data untuknya dan belum menentukan kapan rencana buku itu ditulis, diselesaikan, dan diterbitkan.

Namun melihat baru-baru ini ada kabar di media bahwa ada seorang yang bukan sejawawan tetapi berbicara tentang perang Kerajaan Belanda dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam kabar itu, orang yang sama sekali bukan sejarawan tersebut berbicara dengan referensi yang diperkirakan keliru, dan -mungkin saja- ada maksud propaganda.

Tentu saja, kejadian itu membuat saya marah. Saya telah hati-hati mengekang niat untuk bicara sejarah, namun ada pendongeng yang bicara sejarah seakan dia pernah hidup di masa kakeknya sendiri belum dilahirkan.

Namun saya tidak membantahnya karena panitia acara itu adalah mahasiswa, dimaklumi apabila mereka membuat acara tentang sejarah tetapi hanya mengundang satu pembicara yanng bukan ahli sejarah. Saya berpikir baik saja tentang itu, namun dikejutkan dengan kabar bahwa ada acara serupa dibuat oleh organisasi yang begerak di bidang sejarah yang berjangkauan antar bangsa. Ini yang membuatku terkejut. Tidak marah lagi, tetapi menertawakannya.

Bayangkan saja sebuah organisasi yang bergerak di bidang sejarah dengan jangkauan antar bangsa membuat sebuah acara pembicaraan tentang sejarah dengan menghadirkan satu pembicara yang bukan ahli sejarah. Di mataku, bukan lagi marah pada pembual, namun hilangnya kepercayaan pada organisasi terhormat ini. Selesai sudah. Baik. Saya juga akan berbicara tentang sejarah, walaupun tidak lebih baik dari sejarawan tetapi tidak lebih buruk darinya.

Saya mulai berpikir untuk segera melaksanakan niat, menulis tentang perang 1873-1874 di Aceh dari sudut pandang milter (ketentaraan). Satu lagi, saya ingin menulis tentang strategi perang Laksamana Keumala Hayati yang pernah memimpin armada Kesultanan Aceh Darussalam untuk menyerang Portugis yang menduduki Semenanjung Melaka -yang merupakan salah satu negeri dalam lindungan Kesultanan Aceh Darussalam- pada akhir abad XVI.

Sebenarnya itu niat sudah beberapa bulan lalu, namun setelah kutanya pada beberapa akademisi senior yang menyukai sejarah, apakah ada referensinya? Tidak ada yang khusus. Oleh karena itu saya menunda menulisnya seraya mencari referensi di tempat lain. Melihat kekacauan yang mulai dibuat oleh pendongeng, saya harus segera menyelesaikan buku itu -tentu saja- dengan mencari berbagai referensi terpercaya.

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan, Penulis novel Aceh 2025, Pengurus Sekolah Hamzah Fansuri

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar