BANDA ACEH – Pakar Ekonomi Islam, Dr. M. Shabri Abd. Majid, M.Ec., mengatakan, seharusnya dana melimpah ruah dimiliki Pemerintah Aceh digunakan untuk menggerakkan ekonomi. Selain itu, pemerintah harus bisa menciptakan iklim yang benar-benar kondusif untuk meyakinkan para investor asing agar datang ke Aceh.

“Jika susah berharap pada investor asing, kita masih bisa fokus pada investor lokal. Undang putra-putri Aceh yang kaya, yang punya modal dan yang sebagian mereka pengusaha untuk menanam modal di Aceh. Karena dengan adanya investasi sudah jelas lapangan kerja akan terbuka,” kata Shabri ditemui portalsatu.com di ruang kerjanya, Selasa, 5 Januari 2016.

Sabri menjelaskan, pengusaha yang berinvestasi tentu membutuhkan para pekerja/karyawan, sehingga nantinya dapat direkrut masyarakat  miskin yang selama ini tidak memiliki pekerjaan. Di sisi lain, kata dia, bisa pula dikembangkan sektor ekspor-impor.

“Silakan buka (Pelabuhan) Krueng Geukueh, tetapi fokus pada ekspor, jangan hanya impor. Idealnya pemerintah jangan mendesak Pemerintah Pusat untuk mengimpor lebih banyak jenis barang. Seharusnya yang kita persiapkan adalah komoditas ekspornya, bukan impor,” kata Shabri yang juga Ketua Program Studi Ekonomi Islam Unsyiah.

Menurut Shabri, Aceh sangat kaya dengan sumber daya alam. Seandainya kegiatan ekspor lebih banyak bergerak, maka perusahaan-perusahaan lokal akan tumbuh dan bisa merekrut masyarakat untuk tenaga kerja.

“Masalahnya adalah ketika kita (Aceh) punya dana yang melimpah ruah, dan dana itu tidak digunakan untuk membangun industri atau membangun bisnis, kegiatan ekonomi, yang bisa merekrut tenaga kerja di Aceh, ini sayang sekali,” ujar Shabri.[] (idg)