BANDA ACEH – Pakar ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry, Nazaruddin A. Wahid, mengatakan angka kemiskinan tinggi di Aceh, disebabkan berbagai faktor. Salah satunya adalah APBA yang dinilai tak prorakyat.

Hal itu disampaikan Nazaruddin menanggapi hasil kajian Institute for Development of Acehnese Society (IDeAS), yang menyebutkan tingkat pengangguran Aceh masih tertinggi dari seluruh provinsi di Sumatera. Kajian IDeAS tersebut mengacu data kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang dipublikasi BPS RI pada 5 Mei 2017 lalu.

“APBA kita masih belum menyentuh infrastuktur untuk kaum miskin. APBA masih banyak di biaya operasional. Menye bahasa lawet nyoe APBA tidak prorakyat,” ucap Nazar saat diwawancarai portalsatu.com, Minggu, 7 Mei 2017.

Nazar juga mengatakan perencanaan ekonomi Aceh sangat lemah. Menurut dia pemerintah Aceh hanya melakukan pemerataan di bidang ekonomi namun tidak menonjolkan di satu sektor andalan. Hal itu dinilai salah karena tidak adanya sektor prioritas yang dapat mendongkrak kemakmuran ekonomi rakyat.

“Kalau mau fokus, ya fokus di satu sektor. Misalnya penduduk Aceh banyak yang petani maka fokus di bidang pertanian dan bangun infrastruktur di bidang itu dengan sempurna tanpa melupakan bidang lain,” kata dia.

Infrastruktur yang disebut Nazar, seperti irigasi untuk pertanian. Ia menilai pembangunan infrastruktur fundamental yang seperti itu, masih belum terencana dengan baik sehingga tidak terealisasi sesuai harapan.[]