LHOKSEUMAWE Mengantisipasi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram, sejumlah masyarakat di Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, membuat bahan bakar jenis biogas bersumber dari kotoran sapi (Aceh: ek leumo).
Bahan bakar murah dan aman tersebut hadir setelah diluncurkan oleh PT. Perta Arun Gas (PAG) sebagai pilot project energi ramah lingkungan biogas. Biogas tersebut dibuat dari kotoran sapi yang fungsingya sebagai alternatif jika kelangkaan atau kekosongan gas elpiji 3 Kg seperti kerap terjadi selama ini.
Proses pembuatan biogas terbilang sederhana, hanya mengunakan kotoran sapi yang ditampung dalam tabung bawah tanah untuk difermentasi. Gas hasil fermentasi dialirkan ke rumah warga melalui pipa, kata Presiden Direktur PT Perta Arun Gas (PAG) Teuku Khaidir pada peresmian pilot project tersebut.
Dia menjelaskan, untuk perdua hari, satu keluarga kecil hanya perlu lima kilogram kotoran sapi yang dicampur 10 liter air untuk membuat biogas. Hal itu tentu lebih mudah ketimbang membeli minyak tanah maupun elpiji untuk keperluan memasak.
Tak hanya itu, selain lebih praktis, murah, dan aman menggunakan biogas setelah dimanfaatkan sebagai bahan pembuat biogas, kotoran sapi tetap bisa dijadikan pupuk kompos.[]
