ISTANBUL Aktivis perdamaian antarbangsa, Nur Djuli, dari Aceh mengisi materi di Conference Rejuvenating Peace Processes: Colombia, Philippines, Indonesia (Konferensi Meremajakan Proses Perdamaian Colombia, Filipina, Indonesia (Aceh), di Istanbul 14-15 Oktober 2016.
Dalam kerangka acara, pihak Sabanci University selaku panitia, mengatakan, konferensi perdamaian antarbangsa (internasional) ini dilaksanakan karena dalam beberapa tahun terakhir, pihaknya menyaksikan resolusi perdamaian dapat bertahan lama di beberapa negara bekas konflik di dunia.
Proses resolusi perdamaian di Aceh (Indonesia), Filipina, dan Kolombia adalah beberapa contoh-contoh yang luar biasa, kata panitia.
Selain Aceh, kata mereka, Filipina adalah contoh yang menarik karena difasilitasi dari aktor Islam yang terpenting adanya keterlibatan aktor dari Turki sebagai pengamat internasional. Hal ini juga ideal untuk memulai diskusi tentang keuntungan dan kerugian dari berbagai jenis peran pihak ketiga dan cara yang lebih baik meliputi isu-isu gender dalam proses perdamaian.
Proses perdamaian Aceh di Indonesia, yang mengakhiri salah satu konflik terlama di Asia Tenggara, merupakan salah satu contoh penting. Aceh sebagai contoh yang baik dalam merenungkan bagaimana konflik antara dua kelompok yang sebagian beragama sama dapat berubah menjadi perdamaian, katanya.
Konferensi selama dua hari ini mengharuskan peserta hadir sehari sebelumnya disebabkan datang dari belahan benua lain ke tengah bumi (dari Aceh, Kolombia, Filipina, Inggirs, Spanyol), sehingga seluruh peserta hadir pada Kamis.

Pada pagi Jumat acara dimulai dengan pembukaan, pembicaranya Dr Felix Schmidt, Resident Representative, Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) dari Turki, Prof. Dr. Aydin Ugur, Ketua Dewan Eksekutif, Yayasan Ekonomi dan Sosial (TESEV), Turki,
Pidato Membahas Proses Perdamaian oleh Prof Dr Ayse Betul Celik, Program MA di Analisis Konflik dan Resolusi, Sabanci University, Turki.
Setelah pembukaan, konferensi pertama konferensi sesi pertama dimulai, bertema Proses Perdamaian Aceh (Indonesia). Moderator: Assoc. Prof. Evren Balta, Yildiz Technical University, Turki, dan I Gusti Agung Wesaka Puja, Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda (batal hadir), dan Nur Djuli, Ketua Sekolah Perdamaian dan Demokrasi Aceh & Mantan Juru Runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Indonesia, serta Pieter C. Feith, Senior Advisor Diplomatik, European Institute of Peace, Belgia.
Konferensi pada sesi kedua bertajuik Proses Perdamaian Mindanao (Filipina). Moderator: Esra Elmas, Koordinator Program di Demokrat Progress Institute (DPI) dan Koordinator Proyek di Pusat Studi Resolusi Konflik dan Penelitian (CCR), Istanbul Bilgi University, Turki.
Pengantar Singkat oleh Esra Elmas. Pembicara Profesor Miriam Coronel Ferrer, Universitas Filipina & Mantan Ketua Panel Pemerintah pada Pembicaraan Perdamaian dengan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Filipina, juga Mohagher Iqbal, Mantan Ketua Panel Perdamaian Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Filipina.
Tanya jawab dipandu oleh Senen Bacani dan Abdulla Usmand Camlian. Konferensi sesi ketiga bertajuk Faktor yang Mempengaruhi Proses Perdamaian. Moderator: Assist. Prof Emre Hatipoglu, Sabanci University, Turki.
Assoc.Prof, Esra Çuhadar, Bilkent University, Turki, membawa makalah bertajuk Inklusivitas dalam Proses Perdamaian, dan makalah bertajuk Peran Kekerasan dalam Proses Perdamaian dibawa oleh Prof.Dr Roger Mac Ginty, pakar Perdamaian dan Konflik Studi di Kemanusiaan dan Konflik Response Institute & Departemen Politik, University of Manchester, UK. Pembicaraan bertajuk Statelemate dan Perdamaian Proses disampaikan oleh Prof. Dr Neophytos Loizides, University of Kent di Canterbury, UK.
Pada sesi keempat, konferensi bertajuk Proses Perdamaian Kolombia dengan pembicara pakar dari Turki, Spanyol, Kolombia, dan Inggris.
Pada sesi kelima konferensi bertajuk Pelajaran bagi Turki: Apa Selanjutnya? dengan pembicara pakar dari beberapa partai politik terbesar di Turki.
Sampai berita ini diturunkan, portalsatu.com belum berhasil menghubungi Nur Djuli tentang perkembangan dan hasil konferensi penting tersebut. Dan perdamaian di Aceh menjadi rujukan perdamaian di dunia merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi kita.[]