BANDA ACEH - Pemerintahan Irwandi Yusuf bersama M Nazar pada periode pertama transisi pascadamai Aceh diuntungkan dengan perhatian dunia internasional. Pada saat itu, Aceh disorot…
BANDA ACEH – Pemerintahan Irwandi Yusuf bersama M Nazar pada periode pertama transisi pascadamai Aceh diuntungkan dengan perhatian dunia internasional. Pada saat itu, Aceh disorot oleh berbagai pihak baik karena baru saja dihantam bencana maupun disebabkan perdamaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM)-RI baru saja berlangsung.
Kondisi ini pula yang kemudian dinilai sebagian pihak turut menguntungkan Irwandi, sehingga berhasil membuat sejumlah program prorakyat. Dana melimpah yang mengucur untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) juga tidak dipergunakan sepenuhnya untuk pembangunan fisik, karena saat itu masih dibantu oleh negara donor melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias.
Lantas bagaimana dengan kondisi periode kedua pemerintahan Irwandi Yusuf kali ini? Masihkah pusat dan dunia internasional menaruh perhatian besar terhadap Aceh?
“Itu tergantung sama Bang Wandi (Irwandi Yusuf) dan Bang Nova (Nova Iriansyah), kalau mereka gesit, luar tu sebenarnya melirik ke sini,” kata Johan Habib Makmur, salah satu politisi Denmark asal Aceh yang berperan dalam kemenangan Irwandi-Nova di belakang layar kepada portalsatu.com, Minggu, 26 Februari 2017.
Dia menilai selama ini Pemerintah Aceh salah dalam cara menarik perhatian investor. “Kita salah masuk ke rumah orang. Orang kita kadang-kadang pergi ke negara lain tanpa berkoordinasi dengan pihak kedutaan,” ujarnya.
Menurutnya jika berkoordinasi dengan pihak kedutaan, maka Pemerintah Aceh bisa memaparkan sejumlah potensi yang ada di Aceh. Bahkan, pihak kedutaan juga akan mau menjadi guide di negara-negara tersebut untuk mendampingi perwakilan Aceh menjemput investor.
“Pemahaman itu yang kurang sama orang kita, entah nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti,” ujar politisi Sosial Demokrat di Denmark tersebut.
Dia menilai, potensi keamanan di Aceh juga kian membaik. Hal ini pula yang menguntungkan Pemerintah Aceh untuk dapat menggaet investasi dari donatur luar negeri.
“Keamanan di Aceh itu sudah bagus. Banyak sebenarnya negara-negara luar yang mau masuk ke Aceh. Bahkan investor lokal juga. Selain itu, kalau investor masuk ke Aceh jangan lah gerogoti mereka, kalau boleh kita yang layani mereka,” ujarnya.
Dia kemudian mencontohkan kondisi investasi di Malaysia. Menurutnya di negara Jiran tersebut, investor dilayani seperti raja. Hal tersebut menurutnya jauh berbeda dengan Aceh. “Belum apa-apa sudah minta fee, takut orang. Jangan ngomong fee, tenang, cuma diberikan pengertian di Aceh ini yang nggak boleh minum (alkohol). Gampang sebenarnya urusan sama mereka itu, jadu jangan buat investor takut, buatlah investor itu tenang, nyaman dan mau datang ke sini. Kalau belum apa-apa digertak, emang siapa kau? Nggak ada yang mau datang bawa duit ke sini,” katanya.[]