Salve, lucru!
Sebuah coretan yang berarti Selamat datang, uang terukir di lantai suatu bangunan ketika penggalian kota Pompeii dilaksanakan sejak 1748 –1.669 tahun setelah kota itu terpanggang dan terkubur debu abu vulkanik akibat letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi. Penemuan itu diceritakan oleh Dick dan Bill Lynam dalam buku berjudul Footloose Pilgrims: A Journal of Moped Travels Through Europe.
Masa lalu Pompeii tercatat gemilang. Ia menjadi salah satu kota penting pada zaman Romawi Kuno, megah dan mewah dengan segala gemerlapnya.
Rumah-rumah mewah dengan kebun luas, kamar mandi megah, serta kehidupan seks dan bisnis prostitusi disebut Gregory S. Aldrete dalam buku Daily Life in Roman City sebagai pleasure of life di kota kuno ini.
Aldrete menuliskan dalam bukunya bahwa bisnis prostitusi zaman Romawi Kuno adalah bisnis legal. Dengan syarat, semua rumah bordil harus terdaftar dan membayar pajak setiap hari.
Rumah-rumah bordil itu baru boleh buka pukul 15.00 karena hubungan seks dilarang pada siang hari. Mereka yang melakukan hubungan seks saat matahari masih bersinar terang dicap imoral.
Menyoal bisnis prostitusi, Pompeii boleh dibilang rajanya. The Independent mencatat, dalam dua minggu, bisnis esek-esek di kota ini bisa menyumbang hingga 200.000 Euro, kira-kira setara Rp 3 miliar.
Diperkirakan setidaknya terdapat 35 sampai 41 rumah bordil, tidak termasuk pelacur jalanan yang menawarkan berbagai layanan dengan harga lebih murah di kota kecil seluas 67 hektare itu.
Banyak pendatang dari luar kota, mulai orang kaya bahkan budak, menjajal berbagai layanan menggiurkan yang ditawarkan.
Legenda bahwa Pompeii kota mesum adalah benar, sekaligus tidak benar, kata Kepala Arkeolog Pompeii, Pietro Giovanni Guzzo seperti dikutip dari Spiegel.
Saat ekskavasi atau penggalian bangunan yang diprediksi sebagai rumah bordil pada 1862, terungkap gambaran dunia prostitusi kala itu.
Penentuan apakah satu bangunan ialah rumah bordil atau tidak, harus sangat hati-hati. Pasalnya, fresko atau mural erotis menjadi hiasan yang lumrah di dinding-dinding bangunan. Patung atau ukiran berbentuk phallus atau alat kelamin jantan yang begitu diagungkan, merupakan dekorasi yang umum ditemukan.
Lupanare Grande. Ini rumah bordil paling terkenal dari reruntuhan Pompeii. Diambil dari kata lupanar yang berarti rumah bordil, sedangkan para pekerja seks di dalamnya disebut lupa (serigala betina).