Jadi Peserta Termuda, Musa Juara 3 Lomba Hafiz Quran Dunia

Kabar gembira datang dari Mesir. Hafiz cilik, Musa, yang mewakili Indonesia dalam lomba menghafal Alquran tingkat internasional di Mesir berhasil meraih jura ke tiga.

“Alhamdulillah peringkat tiga,” tutur ayah Musa, La Ode Abu Hanafi, saat berbincang dengan Dream, Kamis 14 April 2016.

Juara pertama untuk lomba hafiz ini adalah Ala Muhammad (9 tahun) dari Provinsi Buhairah, Mesir, dengan nilai 98,58. Peringkat ke dua diraih Bilal Muhammad Sayyid (10 tahun) dari Provinsi Kafr el-sheikh, Mesir.

Dalam Musabaqah Hafalan Quran internasional ke-23 yang digelar di Sharm el-sheikh, Provinsi Sinai Selatan, sejak 10 April ini, Musa (7 tahun) menyabet gelar juara ke tiga dengan nilai 91,17. “Musa menjadi peserta paling muda,” tambah dia.

Musa merupakan mantan peserta lomba hafalan Quran anak-anak yang pernah diselenggarakan di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Dia sudah menghafal Alquran sejak usianya belum genap 6 tahun.

Sebelumnya, Musa juga pernah mengikuti ajang internasional di Arab Saudi. Musa yang kala itu juga menjadi peserta termuda menempati posisi 12 dari 25 peserta dari berbagai negara.

Musa Diundang Presiden Mesir

Musa mampu tampil memukau dalam ajang lomba hafiz internasional di Sharm el-sheikh, Mesir. Sebagai juara ketiga dalam ajang tersebut, Musa mendapat kehormatan, secara khusus diundang untuk bertemu Presiden Mesir, Abdul Fattah as-Sisi.

“Diundang, Insya Allah,” kata ayah Musa, La Ode Abu Hanafi, saat berbincang dengan Dream.co.id, Kamis 14 April 2016.

Bocah berusia 7 tahun ini memang tampil bagus dalam ajang lomba Musabaqah Hafalan Quran Internasional ke-23 tersebut. Sebagai peserta termuda, Musa mampu memperoleh nilai 91,17 dan menjadi juara ke-3.

Menurut Hanafi, undangan tersebut disampaikan oleh Menteri Wakaf Mesir, Muhammad Mukhtar Jum'ah. Mereka, diundang untuk bertemu pada bulan Ramadan mendatang.

“Menyampaikan akan mengundang kami, santri dan kami, secara khusus sebagai pemulian panitia dan Presiden dan Mentri.”

Juara pertama untuk lomba hafiz ini adalah Ala Muhammad (9 tahun) dari Provinsi Buhairah, Mesir, dengan nilai 98,58. Peringkat ke dua diraih oleh Bilal Muhammad Sayyid (10 tahun) dari Provinsi Kafr el-sheikh, Mesir.

Musa Pukau Saudi

Hafiz cilik Indonesia, Musa, mendapat hasil memuaskan dalam lomba penghafal Alquran di Jeddah, Arab Saudi. Meski menjadi peserta paling muda dalam ajang internasional itu, bocah yang belum genap berusia enam tahun itu mampu menempati peringkat tengah.

“Alhamdulillah, Musa peringkat 12 dari 25 peserta,” tutur paman Musa, Abu Unaisah, saat berbincang dengan Dream.co.id, Selasa 8 Juli 2014.

“Dia mendapat nilai mumtaz,” tambah Abu Unaisah. Ya, nilai yang diperoleh Musa memang istimewa. Bocah yang juga menjadi peserta ajang “Hafiz Indonesia” ini mampu meraih nilai 90.83 dari 100 yang menjadi nilai sempurna.

<!–EndFragment–><!–StartFragment–>

Saat ini, lanjut Abu Unaisah, Musa masih berada di Arab Saudi. Dia mengaku belum tahu kapan keponakannya itu tiba di Tanah Air. “Sekarang sedang berlangsung acara kenegaraan di Saudi,” kata Abu Unaisah.

Musa memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Menurut Abu Unaisah, dia bisa menghafal setengah lembar Alquran ukuran besar hanya dalam waktu 30 menit saja. Namun, dengan kemampuan itu bukan berarti Musa tampil sempurna dalam ajang di Saudi itu.[crosslink_1]

Rahasia Musa Menghafal Quran

Hafiz cilik, Musa, membagi kiat menghafal Alquran. Bocah asal Bangka Belitung itu hadir bersama sang ayah, La Ode Abu Hanafi, dalam Tablig Akbar di Masjid Astra, Sunter, Jakarta.

“Awalnya, mengapa saya begini, karena teringat dosa yang sangat besar. Sehingga, kalau punya anak, harus hafal Alquran,” kata Hanafi, Sabtu 23 Agustus 2014.

Dengan mengajari Musa menghafal Alquran, Hanafi berharap bisa mendapat pahala. Sebab, kata dia, orang yang mengajari seseorang membaca Alquran akan mendapat pahala yang sama dengan orang yang diajari. “Dan itu yang nendorong saya mencetak penghafal Alquran,” kata dia.

Menurut Hanafi, orangtua harus selalu mendekatkan diri pada Allah jika ingin mendidik anaknya sebagai penghafal Alquran. Dan untuk mencetak anak menjadi hafiz, orangtua tak harus menjadi penghafal Alquran terlebih dahulu. “Tapi kalau bisa demikian lebih baik.”

Tak mudah bagi Hanafi untuk mencetak anak menjadi hafiz. Apalagi, Musa masih kecil dan harus memperkenalkan huruf-huruf Arab kepadanya. “Mulanya susah. Saya tempel satu-satu huruf itu. Sampai Musa hafal,” ujar dia.

Yang tak kalah penting, Hanafi mendidik Musa dengan disiplin. Memanfaatkan waktu menjadi salah satu kunci sukses Musa menghafal Alquran. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia. “Belajar mulai setengah tiga dini hari sampai pagi,” ujar Hanafi.

Berkat latihan rutin tiap hari itu, Musa akhirnya berhasil menghafal Alquran sebelum genap berusia enam tahun. “Sebenarnya saya target Musa hafal Alquran umur lima setengah tahun. Tapi meleset, hafal lima tahun sebelas bulan.” []Sumber:dream.co.id