JAKARTA — Legenda tinju dunia yang baru meninggal dunia, pernah mengambil sikap melawan arus. Pada 1967-1970, Ali diskors oleh Komisi Tinju karena menolak program wajib militer pemerintah Amerika Serikat dalam perang Vietnam.
Ungkapannya yang terkenal dalam menolak wamil ini, “Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!”
Saat Perang Vietnam berkecamuk pada 1967, Ali menolak untuk masuk militer AS karena alasan agama. Juara kelas berat itu ditangkap dalam tuduhan rencana penggelapan, lisensi tinju dicabut dan ia diminta menanggalkan gelarnya. Ali dihukum maksimum lima tahun penjara dan didenda 10 ribu dolar AS. Pada tahun 1970 Mahkamah Agung New York memerintahkan lisensi tinju Ali diberikan kembali, dan ia kembali ke ring dengan mengalahkan Jerry Quarry pada bulan Oktober 1970.
Di Indonesia egenda tinju kelas berat Muhammad Ali punya beberapa kisah lain. Ia pernah dua kali berkunjung ke Indonesia. Ali pertama kali menginjakkan kaki di bumi Indonesia pada 1973. Dalam kunjungan ke Indonesia, Ali juga menyempatkan diri untuk bertanding tinju secara resmi yang dipromotori Raden Sumantri.
Pada 20 Oktober 1973, Ali 'menyiksa' lawannya, Rudi Lubbers, selama 12 ronde dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta. Oleh publik dan pers Indonesia, pertandingan Ali versus Lubbers disebutkan sebagai pertandingan eksibisi. Namun, nyatanya ini adalah pertandingan resmi, walau tidak memperebutkan gelar.